Yadnya Sesa, Filosofi Berbagi dan Penjaga Keseimbangan Hidup
- 10 Feb 2026 08:28 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Kadek Ariani, menguraikan makna mendalam Yadnya Sesa sebagai filosofi berbagi dan upaya menjaga keseimbangan hidup dalam tradisi Hindu Bali, pada siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa 10 Februari 2026. Menurutnya, yadnya sesa bukan sekadar tradisi ritual, melainkan implementasi nyata filosofi berbagi hasil secara tulus ikhlas tanpa pamrih, yang menjadi dasar penting dalam menjaga keseimbangan hidup yang selaras dengan ajaran Tri Hita Karana, yakni keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Dalam pemaparannya, Ariani menjelaskan umat Hindu kerap menitikberatkan perhatian pada proses yadnya atau persembahan suci. Namun, bagian yang tak kalah penting adalah yadnya sesa, yakni sisa dari persembahan yang telah disucikan dan dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya, lalu dibagikan kembali sebagai berkah atau prasadam.
“Yadnya sesa adalah yadnya sederhana yang dilakukan setiap hari, namun memiliki makna yang sangat mendalam. Sebelum menikmati makanan, umat Hindu terlebih dahulu mempersembahkan sebagian sebagai ungkapan terima kasih dan permohonan izin kepada Tuhan,” jelasnya.
Ia juga mengutip ajaran dalam Bhagawad Gita, yang menegaskan bahwa mereka yang menikmati hasil tanpa yadnya diibaratkan sebagai pencuri. Oleh karena itu, mempersembahkan sesa merupakan bentuk kesadaran segala sesuatu yang dinikmati manusia sejatinya adalah milik Tuhan.
Lebih lanjut, yadnya sesa dipandang sebagai sarana penyucian diri dan peleburan karma. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap melakukan tindakan himsa, baik disadari maupun tidak disadari, seperti merusak atau menghilangkan kehidupan makhluk lain. Melalui yadnya sesa, manusia diajarkan untuk bertanggung jawab secara spiritual atas setiap tindakan tersebut.
Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut menekankan bahwa yadnya sesa memiliki dua dimensi penting, yaitu dimensi ritual dan dimensi filosofis. Secara ritual, yadnya sesa merupakan sisa persembahan yang telah disucikan dengan doa, mantra, dan tirta sehingga mengandung energi positif. Secara filosofis, yadnya sesa mengajarkan etika berbagi hasil, pengendalian diri, serta sikap tidak serakah.
Dalam konteks sosial, praktik yadnya sesa juga menumbuhkan rasa kasih sayang, kepedulian, dan solidaritas. Pembagian sesa kepada keluarga, tetangga, maupun masyarakat merupakan wujud nyata harmoni antar sesama manusia, sementara persembahan kepada alam melalui segehan atau caru menciptakan keseimbangan dengan lingkungan.
Melalui penerapan yadnya sesa dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam mengonsumsi makanan maupun dalam mengelola hasil pekerjaan, umat Hindu diharapkan mampu membentuk karakter yang berbudi luhur, berlandaskan Tri Kaya Parisudha, serta senantiasa hidup selaras dengan dharma demi terciptanya kedamaian dan keseimbangan hidup. “Yadnya sesa mengajarkan perubahan orientasi hidup dari ‘aku dulu’ menjadi ‘Tuhan, sesama, dan alam lebih dahulu’, baru kemudian diri sendiri,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....