Tenung Jejinahan UHN Sugriwa Tarik Minat Milenial
- 10 Feb 2026 05:17 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Kepala Laboratorium sekaligus Dosen Usadha Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar , Ni Made Sinarsari,S.Tr.Keb., S.Kes.H.,M.Si., mengatakan stan pameran UHN Sugriwa dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali menjadi pusat perhatian pengunjung, karena menyediakan layanan konsultasi spiritual tradisional secara cuma-cuma. Layanan yang ditawarkan meliputi tenung jejinahan dan pawacakan, yang bersumber dari manuskrip kuno untuk membantu masyarakat mengetahui potensi diri, serta mencari solusi atas permasalahan hidup yang sedang dihadapi.
Menurut pengamatannya, sejak hari pertama pameran dibuka, banyak pengunjung yang didominasi oleh anak muda, telah mencoba layanan konsultasi tenung jejinahan tersebut. "Kami di sini juga menerima konsultasi secara tradisional melalui tenung, pawacakan, hingga teknik astrologi Hindu, yang mempergunakan pola bantuan uang kepeng ( pis bolong) untuk memudahkan pembacaan nasib," ujar Sinarsari di sela – sela pameran.
Sinarsari menjelaskan teknik tenung ini menggunakan media 40 keping uang kepeng, yang dapat mencerminkan peruntungan seseorang, berdasarkan waktu kelahiran maupun melalui pembacaan energi jarak jauh. Selain kepingan uang, terdapat pula media kayu yang disebut aguron-aguron, yang berfungsi sebagai alat bantu untuk memohon petunjuk spiritual, mengenai langkah-langkah yang harus diambil di masa depan.
Sinarsari menekankan bahwa praktik ini bukan sekadar ramalan tanpa dasar, melainkan hasil penerjemahan pola-pola yang terdapat dalam naskah manuskrip, yang dimiliki secara turun-temurun oleh masyarakat Bali."Jadi dari tenung jejinahan ini akan diketahui penyebab yang dialami seseorang, kemudian solusi apa yang bisa dikerjakan, agar memudahkan kita sukses dan menghindarkan diri dari celaka," jelas Sinarsari.
Minat tinggi dari kalangan generasi milenial dan Gen Z terhadap layanan ini, dipandang sebagai peluang besar, untuk melakukan transfer pengetahuan mengenai warisan intelektual leluhur. Para dosen yang bertugas di stan pameran, secara aktif memberikan penjelasan ilmiah dan filosofis di balik setiap hasil tenung, agar pengunjung tidak hanya sekadar mendapatkan jawaban instan.
Sinarsari mengungkapkan sebanyak 28 orang dosen dikerahkan secara bergiliran, untuk menjaga stan dan memberikan layanan konsultasi, mengingat mahasiswa saat ini sedang dalam masa libur semester. Keterlibatan langsung para akademisi ini, menjamin kualitas informasi yang disampaikan kepada masyarakat, sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya Bali, tetap terjaga keasliannya di tengah arus modernisasi.
Sinarsari pun berharap kolaborasi lintas sektor antara akademisi, pemerintah, dan media seperti RRI dapat terus ditingkatkan, demi menyosialisasikan kekayaan budaya ini secara lebih masif.Selain itu dengan adanya ruang ramah anak dan edukasi yang interaktif, diharapkan pameran ini mampu menjadi tongkat estafet bagi generasi penerus, untuk tetap mencintai dan melestarikan tradisi unik yang dimiliki Bali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....