Makna Sejati Dana dalam Ajaran Agama Hindu
- 09 Feb 2026 15:29 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Makna sejati dana punia dalam ajaran Agama Hindu menjadi topik utama dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ketut Diah Widya Utami, Minggu 9 Februari 2026. Dalam siaran tersebut, pendengar diajak untuk merefleksikan kembali praktik memberi atau berdana agar tidak terjebak pada ukuran materi semata, melainkan berlandaskan ketulusan hati.
Widya Utami menyoroti realitas kehidupan modern yang kerap menilai segala sesuatu berdasarkan kuantitas, seperti besarnya penghasilan, kepemilikan materi, hingga jumlah donasi. Pola pikir tersebut, menurutnya, sering merambat ke ranah spiritual dan membuat seseorang merasa malu atau enggan berdana karena jumlah yang dianggap kecil.
Padahal, dalam ajaran Hindu, besar kecilnya dana tidak diukur dari nominal, melainkan dari sraddha (keyakinan) dan keikhlasan. Hal ini ditegaskan melalui kutipan sloka dari kitab suci yang menyatakan bahwa dana sekecil apa pun, bila disertai hati yang suci, akan membawa kebaikan yang besar, bagaikan sebutir biji pohon beringin yang kelak tumbuh menjadi pohon rindang dan memberi manfaat luas.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa dana dalam Hindu bukan sekadar transaksi sosial, melainkan sebuah pengorbanan suci dan latihan spiritual untuk melepaskan keterikatan terhadap materi. Ajaran Bhagavad Gita juga dikutip untuk menegaskan bahwa Tuhan menerima persembahan yang sederhana, sehelai daun, setangkai bunga, sebiji buah, atau seteguk air—apabila dipersembahkan dengan penuh bakti dan kasih.
Dalam siaran tersebut, Widya Utami menguraikan tiga klasifikasi dana menurut Bhagavad Gita Bab XVII, yakni Satwika Dana, Rajasika Dana, dan Tamasika Dana. Satwika Dana merupakan pemberian yang dilakukan sebagai kewajiban moral, tanpa pamrih, pada waktu dan tempat yang tepat, serta kepada pihak yang layak. Rajasika Dana dilakukan dengan harapan imbalan atau pahala tertentu, sedangkan Tamasika Dana diberikan tanpa rasa hormat, pada waktu dan tempat yang tidak tepat, sehingga kehilangan nilai spiritualnya.
Ia menegaskan bahwa etika dan sikap saat memberi memiliki nilai yang jauh lebih penting daripada besarnya jumlah dana. Pemberian yang disertai kata-kata kasar, sikap merendahkan, atau motif tersembunyi tidak akan menghasilkan pahala spiritual, meskipun jumlahnya besar.
Dana juga dipahami sebagai bentuk tapa, brata, yoga, dan samadhi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan berdana secara tulus, seseorang melatih pengendalian diri, melawan ego dan keserakahan, serta menumbuhkan rasa persaudaraan dengan semua makhluk sesuai ajaran Tat Tvam Asi.
Di akhir siaran, pendengar diajak untuk mempraktikkan dana secara sederhana dan konsisten dengan menghilangkan rasa gengsi, memberi dengan cara yang hormat dan penuh kasih, serta menjaga kerahasiaan dalam berdana. Ditekankan pula bahwa hidup sederhana bukan berarti miskin, melainkan memiliki sikap batin yang selalu merasa cukup dan bersyukur.
“Besar kecilnya pemberian adalah urusan duniawi, tetapi tulus tidaknya pemberian adalah urusan rohani,” ujar Diah Widya Utami menutup siaran. Ia mengajak umat untuk tidak ragu berdana meski jumlahnya kecil, karena ketulusan itulah yang akan membawa kedamaian dan keberkahan bagi diri sendiri maupun sesama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....