Kresna Brahmacari, Jalan Spiritual Menuju Kebahagiaan
- 09 Feb 2026 15:14 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Ajaran Kresna Brahmacari menjadi tema utama dalam siaran Surya Puja Pro 4 RRI Denpasar, yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Ida Bagus Gede Bawa Adnyana, Senin, 9 Februari 2026. Dalam siaran tersebut, dijelaskan bahwa Kresna Brahmacari merupakan jalan spiritual dalam ajaran Hindu yang menekankan kesucian, pengendalian diri, dan pengabdian kepada Tuhan sebagai sarana mencapai kebahagiaan sejati.
Dalam pemaparannya, Bawa Adnyana menguraikan konsep Catur Asrama, yaitu empat jenjang kehidupan umat Hindu yang harus dilalui manusia, meliputi Brahmacari Asrama, Grihastha Asrama, Wanaprastha Asrama, dan Bhiksuka atau Sannyasa Asrama. Brahmacari Asrama dijelaskan sebagai masa menuntut ilmu yang dimulai sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan, dengan keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama dalam pembentukan karakter.
Ia menekankan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk mengatasi awidya (ketidaktahuan). Hal tersebut diperkuat dengan kutipan sloka Bhagavad Gita yang menyatakan bahwa pengetahuan diibaratkan sebagai perahu yang mampu menyeberangkan manusia dari lautan dosa dan kebodohan menuju kehidupan yang lebih bermakna.
“Dalam ajaran Brahmacari terdapat beberapa jenis pelaksanaan, yakni Sukla Brahmacari (tidak menikah seumur hidup), Sawala Brahmacari (menikah satu kali), dan Kresna Brahmacari”, papar Bawa Adnyana. Dijelaskan, Kresna Brahmacari sebagai bentuk Brahmacari yang dijalani oleh mereka yang berkeluarga dan berketurunan, dengan orientasi pada keberlanjutan ilmu pengetahuan, pembinaan keturunan, serta persiapan menuju jenjang spiritual berikutnya.
Salah satu poin penting dalam ajaran Kresna Brahmacari adalah makna empat jenis “perkawinan” yang tidak hanya dipahami secara fisik. Keempatnya meliputi Sarira Wiwaha (penyatuan badan), Manasa Wiwaha (penyatuan pikiran dan cita-cita), Jiwa Wiwaha (penyatuan rasa kasih sayang), dan Atma Wiwaha (penyatuan atman dengan semesta). Keempat unsur tersebut harus berjalan selaras agar perkawinan menjadi jalan spiritual menuju kebahagiaan.
“Dalam konteks rumah tangga, suami dan istri dipandang sebagai mitra spiritual yang memiliki kewajiban lahir dan batin berdasarkan dharma”, ungkap Bawa Adnyana. Ia menambahkan, suami berkewajiban melindungi, menafkahi, dan membimbing keluarga dengan kasih sayang, sedangkan istri berperan menjaga keharmonisan rumah tangga serta mendukung suami dalam menjalankan dharma, artha, kama, dan moksa.
Siaran tersebut juga menyoroti pentingnya penerapan nilai Tri Hita Karana, yakni hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai ini dipandang relevan dalam kehidupan modern, termasuk dalam kegiatan sosial dan keagamaan seperti ngayah.
Di akhir pemaparannya, Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut menegaskan bahwa Kresna Brahmacari bukanlah ajaran tentang pernikahan semata, melainkan jalan spiritual yang mengajarkan kesucian, pengendalian diri, kesederhanaan hidup, serta kasih sayang kepada semua makhluk. Dengan menjalankan ajaran tersebut secara konsisten, umat Hindu diharapkan mampu mencapai kebahagiaan sejati dan tujuan spiritual tertinggi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....