Menjinakkan Kroda dalam Terang Dharma, Refleksi Pengendalian Amarah

  • 02 Feb 2026 14:36 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Amarah atau kroda menjadi salah satu musuh utama dalam diri manusia yang kerap merusak kedamaian batin dan masa depan spiritual. Hal tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu dari Kementerian Agama Kabupaten Badung, Diah Widya Utami, dalam program Surya Puja Pro 4 RRI Denpasar, Minggu, (01/02/2026).

Dalam siarannya, Diah mengajak pendengar untuk merefleksikan pengalaman sehari-hari ketika amarah muncul, baik akibat kemacetan, komentar di media sosial, maupun persoalan dalam keluarga. Ia menegaskan bahwa setelah luapan amarah mereda, sering kali yang tersisa bukanlah kemenangan, melainkan rasa kosong, malu, dan penyesalan.

Menurutnya, dalam ajaran Hindu amarah dikenal sebagai kroda, salah satu bagian dari sadripu atau enam musuh dalam diri manusia. Kroda tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berawal dari keterikatan indria dan keinginan yang tidak terpenuhi. Hal ini sejalan dengan ajaran Bhagavad Gita Bab II Sloka 62, yang menjelaskan bahwa dari keterikatan lahir keinginan, dan dari keinginan muncullah amarah.

Diah menjelaskan bahwa saat amarah menguasai diri, sifat rajas dalam konsep triguna mendominasi pikiran. Rajas yang bersifat panas dan penuh ambisi sebenarnya diperlukan untuk bekerja, namun tanpa kendali dapat berubah menjadi kekuatan destruktif. Ia mengibaratkan pikiran manusia seperti kolam air yang jernih; ketika amarah datang, kolam tersebut menjadi keruh sehingga manusia kehilangan kejernihan dalam melihat kebenaran.

Lebih lanjut disampaikan bahwa amarah memiliki dampak besar dalam hukum karma pala. Tidak hanya perbuatan, pikiran dan perkataan yang dilandasi amarah juga menjadi benih karma. Pikiran yang dipenuhi kemarahan memancarkan energi negatif yang pada akhirnya kembali kepada diri sendiri dalam bentuk hilangnya kedamaian batin.

Dalam konteks Tri Kaya Parisudha, karma akibat amarah dapat muncul melalui tiga gerbang, yaitu pikiran, perkataan, dan perbuatan. Kata-kata kasar yang diucapkan saat marah dapat melukai orang lain secara mendalam, sementara amarah yang menjelma menjadi tindakan fisik dapat menghancurkan masa depan seseorang dalam sekejap.

Sebagai solusi, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut menekankan pentingnya pengendalian emosi berbasis dharma. Beberapa langkah praktis yang disampaikan antara lain memberi jeda sebelum bereaksi, mengatur napas melalui latihan pernapasan sederhana, serta mengembangkan sikap ksama atau pengampunan. Ia menegaskan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan batin yang sejati.

Menutup siaran, ia mengingatkan bahwa kemenangan terbesar menurut ajaran Hindu bukanlah menaklukkan orang lain, melainkan menaklukkan diri sendiri. Dengan menjinakkan kroda dalam terang dharma, manusia diharapkan mampu menjadi sumber kesejukan dan kedamaian di tengah dunia yang penuh konflik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....