Pertanyaan “Pantaskah Aku Lahir?” dalam Perspektif Hindu

  • 02 Feb 2026 13:21 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Pertanyaan eksistensial “pantaskah aku lahir?” menjadi topik utama dalam program Surya Puja Pro 4 RRI Denpasar yang disiarkan pada Senin (31/01/2026). Materi tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu dari Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Made Tisna Irawan.

Dalam pemaparannya, Tisna Irawan menjelaskan  pertanyaan mengenai kelayakan diri untuk hidup sering muncul dari pengalaman penderitaan, kegagalan, penolakan sosial, maupun krisis identitas. Namun, menurutnya, pertanyaan tersebut tidak semestinya dipahami sebagai bentuk keputusasaan, melainkan sebagai refleksi filosofis dan spiritual yang menandai kesadaran manusia dalam mencari makna hidup.

Ia menegaskan bahwa ajaran Hindu memandang kelahiran manusia sebagai bagian dari hukum kosmis dan perjalanan spiritual atman. Konsep karma pala, samsara, dan moksa menjadi landasan utama dalam memahami kelahiran, di mana manusia tidak lahir secara kebetulan, melainkan sebagai konsekuensi dari karma masa lalu yang perlu diselesaikan.

“Dalam ajaran Hindu, kelahiran tidak diukur dari pantas atau tidak pantas menurut standar duniawi. Setiap manusia memiliki jalur kehidupan yang unik sesuai karmanya masing-masing,” jelasnya.

Lebih lanjut, Tisna Irawan menyampaikan kelahiran sebagai manusia merupakan anugerah yang sangat utama. Manusia memiliki kemampuan berpikir, berefleksi, serta membedakan antara dharma dan adharma, sehingga memiliki kesempatan untuk memperbaiki karma dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Ia juga menekankan pentingnya menjalani kehidupan berdasarkan Catur Purusa Artha, yakni dharma, artha, kama, dan moksa. Dharma ditempatkan sebagai landasan utama agar pencapaian kesejahteraan dan kenikmatan hidup tetap selaras dengan nilai-nilai moral dan spiritual.

Menurutnya, penderitaan dalam hidup bukanlah hukuman, melainkan sarana pembelajaran spiritual bagi atman. Dengan memahami hakikat atman yang kekal dan tidak pernah lahir maupun mati, manusia diajak untuk tidak mengidentifikasi diri sepenuhnya dengan kegagalan dan keterbatasan duniawi.

Sebagai pedoman praktis, ajaran Tri Kaya Parisudha, penyucian pikiran, perkataan, dan perbuatan, ditekankan sebagai cara untuk menjalani kehidupan secara etis dan bermakna. Ketika manusia hidup selaras dengan dharma, keraguan terhadap makna kelahiran akan bertransformasi menjadi kesadaran spiritual yang matang.

Menutup pemaparannya, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut menegaskan bahwa berdasarkan ajaran Hindu, pertanyaan “pantaskah aku lahir?” sejatinya tidak perlu dijawab dengan penyesalan. Kelahiran manusia adalah anugerah sekaligus tanggung jawab, serta kesempatan suci untuk belajar, mengabdi, dan mencapai tujuan tertinggi, yaitu moksa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....