Belajar Makna Kehidupan dari Pohon Bambu, Perspektif Hindu

  • 30 Jan 2026 07:07 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Alam semesta diciptakan bukan tanpa tujuan. Dalam ajaran Hindu, alam dipandang sebagai guru kehidupan yang sarat nilai-nilai Dharma. Hal ini disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Badung, Sang Ayu Asri Laksmi Dewi, dalam program siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, pada Kamis, 29 Januari 2026.

Dalam siarannya, Laksmi Dewi mengajak pendengar untuk mempelajari makna kehidupan melalui simbol sederhana namun penuh filosofi, yakni pohon bambu. Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu, alam semesta (bhuana agung) dan manusia (bhuana alit) saling berkaitan erat. Apa yang terdapat di alam sejatinya merupakan cerminan nilai-nilai Dharma yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pohon bambu, meskipun tampak sederhana, memiliki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia” kata Laksmi Dewi.

Ia menambahkan, bambu digunakan sebagai bahan bangunan, alat musik, sarana upacara, hingga peralatan sehari-hari. Dari sini, umat diajak untuk memahami bahwa kesederhanaan tidak menghalangi seseorang untuk memberi manfaat besar bagi sesama.

Lebih lanjut, Penyuluh Agama Hindu kabupaten Badung tersebut memaparkan sejumlah nilai luhur yang dapat dipelajari dari pohon bambu. Pertama adalah kerendahan hati. Bambu yang semakin tinggi tumbuh justru semakin merunduk, melambangkan sikap rendah hati. Dalam ajaran Hindu, kesombongan disebut sebagai musuh utama kebijaksanaan, sementara kerendahan hati merupakan ciri orang yang memiliki pengetahuan sejati.

Nilai kedua adalah kekuatan dalam kebersamaan. Bambu tidak tumbuh sendiri, melainkan berumpun dan saling menopang. “Filosofi ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis antar sesama manusia (pawongan), yang menekankan pentingnya hidup rukun, saling menolong, serta saling menghargai”, ungkap Laksmi.

Makna ketiga yang disampaikan adalah keteguhan dan kelenturan dalam menghadapi cobaan hidup. Ketika diterpa angin kencang, bambu tidak melawan secara kaku, tetapi lentur mengikuti arah angin tanpa patah. Hal ini menjadi simbol kebijaksanaan dalam menghadapi suka dan duka kehidupan dengan sikap seimbang, sebagaimana diajarkan dalam Bhagavad Gita.

“Selanjutnya, pohon bambu juga mengajarkan tentang hidup yang bermanfaat dan penuh pengabdian. Sejak muda hingga tua, bahkan setelah ditebang, bambu tetap memberikan manfaat. Nilai ini sejalan dengan ajaran Karma Yoga, yaitu bekerja dan berbuat dengan tulus tanpa mengharapkan hasil semata”, jelas Laksmi Dewi.

Makna terakhir adalah kesederhanaan dan ketulusan hidup. Bambu hidup sederhana dan bagian dalamnya kosong, yang dimaknai sebagai simbol penyerahan diri secara total kepada Tuhan.

“Kekosongan tersebut mengajarkan manusia untuk melepaskan ego, berdamai dengan diri sendiri, dan menapaki perjalanan spiritual menuju kesadaran sejati”, tambahnya.

Melalui refleksi terhadap pohon bambu, Sang Ayu Asri Laksmi Dewi berharap nilai-nilai luhur seperti kerendahan hati, kebersamaan, keteguhan, pengabdian, serta kesederhanaan dapat dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga hidup selaras dengan ajaran Dharma dan membawa kedamaian batin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....