Ciri-ciri Anak Terpapar Iret
- 29 Jan 2026 14:53 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Menurut Katim Idensos dan Pencegahan Satgaswil Densus 88 Bali, Hadi Nata Kusuma, S.H., M.H., sangat mudah untuk melihat anak-anak dengan ciri iret. Kita bisa melihat dari sisi radikalisme. Biasanya dia ingin ideologi baru. Jadi dia anti dengan ideologi pancasila. Contohnya dia sudah tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya, tidak mau hormat bendera dan sudah mulai mengisolasi diri karena dia sudah nyaman dengan dunianya di media sosial.
Lebih lanjut Hadi menjelaskan jika anak sudah terpapar iret di sini ada perubahan perilaku, misalnya orang tuanya mungkin melihat kok anak saya mulai menentang saya. Kalau kami contohkan, orang tuanya muslim dari kalangan NU yang sudah moderat, sudah paham lah terkait nasionalisme atau kebangsaan. Tiba-tiba anaknya sudah mulai mengajari serta mendikte orang tuanya dan dia mengatakan mendapatkannya dari media sosia. Nah yang seperti ini seharusnya diantisipasi apalagi membenarkan upaya-upaya kekerasan dan dikafirkan,. Nah ini contoh kasus yang terkait denga ideologi.
Ciri-ciri lain yang bisa kita lihat, misalkan melazimkan upaya-upaya kekerasan untuk mencapai tujuan. Kemudian anak ini sudah mulai menyebarkan dan mengidolakan kelompok-kelompok radikal teror seperti ISIS. Karena dia mengidolakannya maka dipasanglah di profile medsosnya atau ketika kita suka dengan sesuatu atau mengidolakan sesuatu tentu kita memasang poster atau status mengenai idola kita pasti akan terus dilihat. Jika cirinya seperti ini berati si anak sudah mulai terpapar. Nah terakhir, jika sudah membenarkan kekerasan jangan sampai dia merealisasikan upaya kekerasan itu, tambah Hadi dalam Siaran Obrolan Komunitas Rahajeng Bali di Pro 4 RRI Denpasar, Jumat, 12 Desember 2025.
Hadi menuturkan, berkaca dari anak yang kita tangani di Bali beberapa waktu lalu, awalnya dia ingin belajar agama. Namun, karena faktor orang tua yang sibuk karena kebetulan bapaknya kerja di kapal pesiar sehingga sedikit sibuk. Intinya anak ini ingin belajar agama sehingga untuk memudahkan itu dicarilah di media sosial tepatnya di tik tok. Kebetulan di tik tok yang pertama kali ditemukan adalah ideologi yang terkait kelompok ISIS tadi.
Di sana kebetulan dia suka secara algoritma. Kalau di tik tok itu kan muncul terus. Nah itu yang terjadi, setiap hari ditontonlah ideologi itu. Kemudian masuklah dia ke situs-situs itu, kemudian punyalah dia bayangan terkait kelompok ISIS. Semakin dalam pengetahuan dia tentang ISIS sampai dia buat konten disebarkan ke media sosialnya. Pada akhirnya dia digiring, diarahkan untuk bergabung di group kecil whatsApp. Jadi di whatsApp ini isinya anak-anak semua, ada anak usia 10 sampai 16 tahun atau 18 tahun. Jadi isinya masih anak-anak semua dan ada beberapa yang remaja.
Setelah digiring ke sana, lalu mereka berinteraksi, bertukar informasi, mendapatkan pengakuan. Kemudian mereka diajarkan tutorial membuat bahan peledak. Nah di sini mereka terinspirasi, dicobalah dan kebetulan berhasil. Tentu ini akan berdampak kepada masyarakat, khususnya masyarakat Bali. Ini semua penyebabnya karena pengaruh media sosial saat ini, pungkas Hadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....