Tuhan Tidak Hanya Berada Di Pura Besar

  • 29 Jan 2026 06:59 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Keberadaan Tuhan kerap menjadi pertanyaan mendasar dalam kehidupan spiritual umat manusia. Dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, Ida Bagus Putu Tilem Singarsa, mengajak umat untuk memahami konsep keberadaan Tuhan dalam ajaran Hindu melalui topik “Dimanakah Tuhan Berada?”, Kamis, 29 Januari 2026.

Dalam pemaparannya, Tilem menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu, Tuhan dikenal sebagai Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Brahman, realitas tertinggi yang menciptakan dan mengatur seluruh alam semesta. Konsep ketuhanan ini mencakup dua pemahaman utama, yakni Saguna Brahman dan Nirguna Brahman.

“Saguna Brahman dipahami sebagai Tuhan yang berwujud dan memiliki atribut, yang dimanifestasikan untuk memudahkan umat dalam melakukan pemujaan. Sementara itu, Nirguna Brahman adalah Tuhan yang tanpa wujud dan tanpa atribut, melampaui jangkauan pikiran manusia, atau sering disebut sebagai Parama Acintya”, papar Tilem.

Menjawab pertanyaan tentang lokasi keberadaan Tuhan, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut menegaskan bahwa Tuhan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Sifat Tuhan yang wyapi wyapaka nirwikara menunjukkan bahwa Tuhan hadir di mana-mana, meliputi segalanya, tidak berubah dan tidak terpengaruh. Oleh karena itu, Tuhan tidak hanya berada di pura-pura besar seperti Pura Besakih atau Pura Batur, tetapi juga hadir di setiap tempat, termasuk di dalam diri manusia.

“Dalam diri setiap insan terdapat Atman, yang merupakan percikan terkecil dari Brahman,” ujarnya. Dengan pemahaman ini, umat diyakinkan bahwa sembahyang dapat dilakukan di mana saja, baik di pura, di rumah, di kantor, maupun di tempat lain, selama dilakukan dengan konsentrasi dan memperhatikan situasi serta etika lingkungan.

Lebih lanjut, ia mengutip ajaran dalam Kakawin Arjuna Wiwaha yang mengibaratkan kehadiran Tuhan seperti bayangan bulan di dalam air. Bayangan itu hanya dapat terlihat jelas jika airnya jernih. Hal ini dimaknai bahwa Tuhan dapat disadari dan dialami apabila pikiran manusia bersih dan terfokus, salah satunya melalui pelaksanaan yoga.

Dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, umat Hindu mengenal Catur Marga, yaitu empat jalan spiritual menuju Tuhan. Keempatnya meliputi Bhakti Marga melalui sembahyang dan persembahan, Karma Marga melalui perbuatan baik dan pelayanan kepada sesama, Jnana Marga melalui pencarian dan pendalaman pengetahuan suci, serta Raja Marga melalui tapa, brata, yoga, dan meditasi.

Tilem Singarsa menekankan bahwa keempat jalan tersebut hendaknya dijalankan secara seimbang dan disesuaikan dengan situasi kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan sosial, umat tidak dapat hanya menekuni satu jalan saja, melainkan perlu menjaga keharmonisan antara kewajiban spiritual dan sosial.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam sembahyang, sarana seperti dupa, bunga, dan banten hanyalah alat bantu. Yang paling utama adalah ketulusan dan keikhlasan hati. Mengutip ajaran dalam Bhagavad Gita, persembahan sederhana berupa daun, bunga, buah, atau air akan diterima oleh Tuhan apabila dipersembahkan dengan niat yang tulus.

Menutup siaran, Tilem Singarsa berharap pemahaman ini dapat memberikan pencerahan dan pandangan spiritual bagi umat Hindu, sehingga semakin mantap dalam menjalani kehidupan yang berlandaskan Dharma.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....