Cuaca Buruk, Tangkapan Nelayan Pengambengan Anjlok Drastis

  • 27 Jan 2026 08:23 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jembrana - Cuaca buruk yang melanda perairan Selat Bali dalam beberapa hari terakhir mulai berdampak pada hasil tangkapan ikan nelayan di Desa Pengambengan, Jembrana menurun drastis. Angin kencang yang terus menderu memaksa para nelayan membatasi aktivitas melaut demi keselamatan nyawa.

Kondisi laut yang tidak stabil membuat mayoritas nelayan memilih untuk tetap berada di darat atau hanya melaut di area pesisir. Bagi perahu berukuran sedang, risiko terjangkau angin kencang dinilai terlalu besar untuk memaksakan diri ke tengah samudra. 

Salah satu pemilik perahu, Haiduri, mengungkapkan penurunan tajam yang dialami para nelayan. Dalam kondisi cuaca normal, satu kapal mampu membawa pulang sedikitnya 10 ton ikan, bahkan sempat menyentuh angka 42 ton saat musim puncak. Namun kini, mendapatkan 1,5 ton saja sudah menjadi tantangan berat.

"Sekarang paling dapat 1,5 ton. Biasanya bisa 10 ton. Penurunannya hampir 75 persen. Angin kencang lebih berisiko, jadi kami tidak berani jauh melaut," ujar Haiduri saat ditemui di kawasan pantai, Senin 26 Januari 2026.

Meski nelayan tetap mencoba melaut sesuai rekomendasi pihak perikanan setempat, peluang untuk meraup hasil maksimal sangat kecil. Dampaknya mulai terasa di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pengambengan yang kini tampak lebih lengang dari biasanya.

Saat ini, para nelayan hanya bisa berharap kondisi cuaca di Selat Bali segera membaik. Pulihnya stabilitas angin menjadi tumpuan utama agar mereka dapat kembali berlayar jauh dan memulihkan pendapatan keluarga yang sempat terpuruk.

Sebelumnya, Staf Analisa Data BMKG Jembrana, Trayi Budi, mengungkapkan bahwa curah hujan berpotensi menembus angka di atas 50 milimeter. Kondisi ini dipicu oleh tingginya aktivitas konveksi atau penguapan yang terpusat di perairan selatan Bali.

“Januari memang merupakan puncak musim penghujan. Sebagian besar wilayah Jembrana berpeluang hujan ringan sampai sedang hingga sepuluh hari ke depan,” ujar Trayi pada pekan lalu.

Selain curah hujan, BMKG menyoroti kondisi di Selat Bali. Keberadaan pegunungan di wilayah Ketapang memicu pembentukan awan yang lebih masif, sehingga jarak pandang (visibilitas) di jalur penyeberangan tersebut diperkirakan akan menjadi lebih pendek.

Meskipun kecepatan angin saat ini terpantau normal di kisaran 5 hingga 15 knot, masyarakat diminta tidak lengah. Potensi angin kencang secara tiba-tiba tetap mengintai selama puncak musim hujan berlangsung.

Terkait kondisi perairan, BMKG mencatat tinggi gelombang laut saat ini berkisar antara 1,5 hingga 2 meter. Mengingat cuaca yang fluktuatif, para nelayan dan pengguna jasa penyeberangan diimbau untuk lebih berhati-hati.

"Kami meminta masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di laut, untuk terus memantau informasi cuaca terkini guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....