Sembahyang, Jalan Menuju Ketenangan dan Kesadaran Spiritual
- 26 Jan 2026 09:40 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Sembahyang dalam agama Hindu bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan jalan spiritual yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan manusia.
Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Luh Putu Parwati, dalam program Surya Puja yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI). Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa sembahyang merupakan jembatan antara manusia dengan Tuhan sekaligus sarana membangun kesadaran spiritual yang sejati.
Menurut Parwati, dalam ajaran Hindu sembahyang dikenal dengan istilah puja, upasana, atau bhakti. Secara hakikat, sembahyang adalah bentuk penghormatan dan pengabdian kepada Tuhan yang dilandasi ketulusan hati, bukan semata-mata besarnya sarana persembahan. Ia mengutip ajaran Bhagavad Gita yang menekankan bahwa Tuhan menerima persembahan sederhana seperti daun, bunga, buah, atau air apabila disertai bhakti yang tulus.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan utama sembahyang adalah menyatukan atman dengan Brahman sebagai sumber kehidupan. Melalui sembahyang, umat Hindu melatih diri untuk menjalankan Bhakti Yoga, yakni jalan spiritual melalui cinta dan pengabdian kepada Tuhan.
“Selain itu, sembahyang berfungsi untuk menyucikan Tri Kaya Parisudha, yaitu pikiran, perkataan, dan perbuatan”, ungkap Parwati.
Ditambahkan, pengucapan mantra suci, konsentrasi batin, serta sikap sembah dalam persembahyangan menjadi sarana penyucian diri agar manusia senantiasa berjalan di atas jalan Dharma.
Sembahyang juga merupakan wujud rasa syukur dan permohonan. Umat Hindu diajak untuk senantiasa mengucap terima kasih atas anugerah kehidupan sekaligus memohon tuntunan agar mampu menjaga keharmonisan hidup sesuai ajaran Hindu.
“Dalam konsep Tri Hita Karana, sembahyang berperan penting dalam menjaga hubungan parahyangan, yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan”,tegas Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut.
Dalam praktiknya, bentuk sembahyang dalam Hindu sangat beragam, mulai dari Trisandhya yang dilakukan tiga kali sehari, sembahyang pada hari-hari suci seperti Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan, Saraswati, dan Nyepi, hingga persembahyangan di pura maupun secara pribadi di rumah. Waktu dan tempat sembahyang tidak dibatasi, karena Tuhan hadir dalam kesadaran dan niat suci umat.
Parwati juga menyoroti tantangan di era modern, di mana kesibukan sering membuat umat lalai bersembahyang. Ia menekankan bahwa sembahyang tidak harus dilakukan dalam waktu lama, melainkan cukup dengan ketulusan dan kesadaran, bahkan hanya dengan meluangkan beberapa menit untuk hening dan mengucapkan mantra suci.
Adapun manfaat sembahyang antara lain memberikan ketenangan batin, meningkatkan kesadaran moral, menjaga kesehatan spiritual, serta membantu menyeimbangkan energi dalam diri manusia. Dengan sembahyang yang dilandasi kesadaran, umat Hindu diharapkan mampu membangun kehidupan yang harmonis dengan keluarga, masyarakat, dan lingkungan.
Melalui siaran Surya Puja, Ni Luh Putu Parwati mengajak umat Hindu untuk menjadikan sembahyang sebagai gaya hidup spiritual, bukan sekadar kewajiban ritual, sehingga nilai-nilai Dharma senantiasa hadir dalam setiap aspek kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....