Udeng Bongkos Wong
- 08 Des 2025 08:34 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Pemangku atau sulinggih merupakan orang yang disucikan oleh masyarakat Bali. Tugas dari seorang sulinggih atau pemangku adalah muput upacara adat dan keagamaan yang dilaksanakan masyarakat.
Seorang pemangku biasanya menggunakan atribut khusus sehingga masyarakat dapat mengetahui orang itu seorang pemangku. Atribut tersebut salah satunya destar atau udeng yang digunakan. Udeng atau destar yang digunakan seorang pemangku bernama Udeng Bongkos Wong.
Mengenai Udeng Bongkos Wong juga dibenarkan oleh Ahli Spiritual, Jero Gede Mekel Made Sukadha.
“Udeng Bongkos Wong adalah simbol sebuah kesucian seseorang yang sudah mampu menjalankan tapa, brata atau kebebasan dari duniawi. Mengapa karena jika sudah menggunakan Udeng Bongkos Wong kita tidak boleh ke tempat-tempat yang termasuk judi dan lain sebagainya. Jangan ketika menggunakan Udeng Bongkos Wong jadi Pekembar di tajen. Ini terkadang lepas dari apa yang sesungguhnya dilakukan oleh seorang pemangku,” ungkap Jero Mekel.
Pada Siaran Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar beberapa waktu lalu, Jero Mekel menjelaskan di pustaka suci Sangkul Putih disebutkan ada 108 pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pemangku. Pada intinya seorang pemangku sudah terbebas dari segala hal yang bersifat duniawi, misalnya berjudi, minum-minuman keras dan lain sebagainya.
Menurutnya, ini tidak diperbolehkan terutama orang tersebut sudah menggunakan udeng bongkos wong. Apalagi di masyarakat ada yang menemukan orang yang menggunakan udeng seperti udeng pemangku, tetapi ikut bermain ceki. Ini yang sering menjadi fenomena yang terjadi di masyarakat.
“Jadi seorang pemangku harus bisa memiliah, apa yang seharusnya tidak boleh dan boleh dilakukan. Jika kita ingin mencari hiburan sebaiknya jangan menggunakan atribut sebagai pemangku. Kita harus belajar professional karena ketika kita menjalankan tugas kepemangkuan barulah kita menggunakan atribut apapun itu selengkapnya. Ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang diinginkan. Artinya jangan ke mana-mana menggunakan udeng bongkos wong. Kita harus menghormati apa yang sudah diwariskan oleh leluhur kita, apalagi sudah berambut Panjang, lanjut Jero mekel.
Udeng bongkos wong itu sebenarnya digunakan untuk membungkus rambut Panjang. Kalau rambut Panjang sebagai seorang pemangku merupakan salah satu brata yang dilakukan. Ini disebut tapa rupa. Tapa rupa artinya tidak boleh memotong semua yang tumbuh di dalam badan.
"Mengapa, karena kita sudah terbebas dari duniawi untuk ketampanan dan sebagainya. Rambut Panjang juga merupakan simbol sebagai seseorang yang sudah mampu mengendalikan diri. Rambut Panjang itu diikat di belakang artinya sedapat mungkin kita bisa mengendalikan diri terhadap pantangan yang tidak boleh kita lakukan. Itulah simbol-simbol yang kita pakai sebagai seseorang yang disucikan sehingga bisa mengangkat prabawa atau wibawa kita sebagai seseorang yang mampu melakukan yadnya upakara yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak," tutup Jero Mekel.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....