Segehan atau Blabaran
- 09 Nov 2025 08:46 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Menurut Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Ida Ayu Made Purnamaningsih selain tipat dampulan, upakara yang biasanya dihaturkan pada saat rahina suci kajeng kliwon oleh umat Hindu adalah blabaran atau segehan. Segehan berasal dari kata sege berarti nasi. Dalam Bahasa Jawa, sego juhga berarti nasi. Oleh karena itu banten segehan ini didominasi oleh nasi dalam berbagai bentuk.
Bentuk nasi segehan ada yang berbentuk nasi cacah, nasi kepelan dan nasi tumpeng. Segehan berbentuk nasi sasah adalah nasi yang tidak diapa-apakan. Kemudian ada juga berbentuk nasi kepelan yaitu nasi yang dikepalkan. Serta ada juga yang berbentuk tumpeng yaitu nasi yang berbentuk kerucut kecil-kecil atau dananan. Sedangkan wujud banten segehan berupa alas taledan daun pisang ataupun janur diisi nasi beserta lauk pauknya yang sangat sederhana yaitu bawang merah, jahe dan garam, tutur Dayu Purnamaningsih saat menjadi narasumber pada Siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Minggu (9/11) 2025.
Lebih jauh Dayu Purnamaningsih mengungkapkan Blabaran atau segehan ini dihaturkan di tempat-tempat tertentu. Segehan ini dihaturkan di pelinggih-pelinggih, seperti Taksu, pelinggih Ratu Ngurah, pelinggin Penungun Karang, dan lainnya. Segehan atau blabaran ini biasanya dihaturkan di bawah. Banten segehan atau blabaran yang dihaturkan di bawah ini ditujukan kepada penghuni alam bawah, baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan atau di bali disebut dengan gumatat-gumitit serta para bhuta kala yang kasat mata.
Perlengkapan lain yang digunakan pada saat rahina suci kajeng kliwon adalah api tangkep. Api Takep ini terdiri dari dua buah sabut kelapa yang ditangkupkan menyilang sehingga berbentuk tanda swastika. Selain itu, sarana lain yang juga digunakan di rahina suci kajeng kliwon adalah api disertai dupa, beras dan tetabuhan. Tetabuhan ini berupa air, tuak serta berem, tambah Dayu Purnamaningsih.
Maksud dan tujuan menghaturkan segehan ini merupakan perwujudan bakti dan srada kita kepada Sang Hyang Siwa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa telah mengembalikan atau somya Sang Tiga Bhucari. Berarti kita telah mengembalikan keseimbangan alam niskala dari alam bhuta menjadi alam dewa penuh sinar. Bukan artinya kalau kita mesegehan nyomya. Nyomya itu artinya menetralisir, bukan berarti kita menghilangkan bhuta kala. Tidak dihilangkan, tetapi kita menyomyanya dengan memberikan segehan. Jadi dia kembali netral atau seimbang, tutup Dayu Purnamaningsih.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....