Pengertian dan Jenis Kajeng Kliwon
- 09 Nov 2025 07:01 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Kajeng Kliwon merupakan hari yang perhitungannya jatuh pada tri wara yaitu kajeng dan panca waranya yaitu kliwon. Pertemuan antara kajeng dengan kliwon diyakini sebagai saat energi alam semesta yang memiliki unsur dualitas ini bertemu satu sama lainnya. Energi dalam alam semesta yang ada di bhuana agung semuanya terealisasi dalam bhuana alit atau tubuh manusia itu sendiri. Sering dikatakan bahwa bhuana agung itu adalah alam semesta. Sedangkan bhuana alit itu sendiri adalah tubuh manusia ungkap Ida Ayu Made Purnamaningsih .
Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar ini mengatakan rahina kajeng kliwon diperingati setiap 15 hari sekali. Kajeng kliwon dapat dibagi menjadi 3 yaitu kajeng kliwon uwudan, kajeng kliwon enyitan dan kajeng kliwon pamelastali. Kajeng kliwon uwudan itu adalah kajeng kliwon setelah bulan purnama. Kajeng kliwon enyitan adalah kajeng kliwon setelah bulan mati atau tilem. Kajeng kliwon pamelastali adalah kajeng kliwon yang jatuh saat Watugunung runtuh. Kajeng Kliwon pamelastali jatuh setiap 6 bulan sekali.
“Pada zaman dulu ada kepercayaan masyarakat Bali yang menetralisir suatu penyakit pada hari kajeng kliwon. Maksudnya jika ada yang menderita sakit menahun, seperti koreng, gendongan, bisul yang tidak sembuh-sembuh maka sakit itu bisa dibuang dengan cara menghaturkan segehan atau blabaran di penataran agung atau di pertigaan agung lengkap dengan banten yang telah ditentukan. Biasanya dipilih pada hari kajeng kliwon pamelastali atau 5 hari sebelum piodalah Sang Hyang Aji Saraswati. Ini yang disebut dengan Watugunung runtuh”, tutrnya pada Siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Minggu (9/11) 2025 .
Ada mitos atau gugontuwon yang mengatakan pada saat masyarakat yang terkena berbagai macam penyakit, seperti korengan, bisul ketika tidak sembuh-sembuh, orang tua terdahulu menyakini di hari raya kjeng kliwon pamelastali ini dinyatakan sebagai hari yang ampun atau hari yang sakral yang mana bisa menyembuhkan penyakit yang diderita tahun menahun dengan keyakinan. Jadi tidak semua orang memiliki keyakinan yang sama. Artinya kita tidak bisa memaksakan keyakinan satu orang dengan orang yang lainnya. Tetapi penglingsir kita terdahulu meyakini bahwa di hari kajeng kliwon pamelastali ini dapat menghilangkan berbgai macam penyakit. Semuanya kembali pada keyakinan umat Hindu masing-masing, pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....