Upacara Potong Gigi, Mengikis Sifat Buruk Menuju Kesucian

  • 18 Okt 2025 09:59 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar : Siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar edisi Sabtu (18/10/2025) menghadirkan topik mendalam berjudul “Upacara Potong Gigi” yang disampaikan oleh penyuluh agama Hindu Kota Denpasar Ni Ketut Oka Sutriani. Dalam siarannya, beliau menjelaskan makna, sejarah, serta nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam upacara metatah atau potong gigi, salah satu ritual penting dalam kehidupan umat Hindu di Bali.

Oka Sutriani mengawali penjelasannya dengan menegaskan bahwa upacara potong gigi bukan sekadar untuk memperindah diri, melainkan memiliki tujuan suci, yaitu mengurangi dan menyeimbangkan enam sifat buruk manusia (Sad Ripu): kama (nafsu), loba (rakus), moha (kebingungan), krodha (amarah), mada (kemabukan), dan matsarya (iri hati). Enam sifat ini dianggap sebagai “musuh dalam diri” yang perlu dikendalikan agar manusia dapat hidup selaras dengan dharma.

Secara simbolis, potong gigi dilakukan terhadap enam gigi bagian atas, empat gigi seri dan dua gigi taring, yang melambangkan upaya manusia untuk mengikis sifat kebinatangan dan menumbuhkan sifat-sifat kedewasaan serta kesucian batin. “Binatang buas memiliki gigi tajam, dan kebuasan itu lambangnya ada di taring,” ujar Oka Sutriani. “Dengan memotong gigi, manusia belajar mengendalikan sifat buasnya.”

Dalam penjelasannya, penyuluh agama Hindu Kota Denpasar tersebut juga menyinggung aspek historis upacara ini. Berdasarkan temuan fosil manusia purba di Gilimanuk yang berusia sekitar 2.000 tahun, diketahui bahwa praktik pengasahan gigi sudah dikenal sejak masa prasejarah. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pemotongan bagian tubuh seperti rambut dan gigi dahulu merupakan bentuk persembahan kepada leluhur, yang kemudian berkembang menjadi ritual penyucian diri dalam agama Hindu.

Lebih lanjut, Oka Sutriani mengutip ajaran Puja Kalopati, sebuah lontar yang menjelaskan bahwa manusia yang belum melaksanakan upacara potong gigi masih dianggap membawa kekotoran lahiriah dan batiniah sejak kelahirannya. Melalui prosesi ini, seseorang dinyatakan telah memasuki tahap kedewasaan spiritual dan siap menjalankan kehidupan dengan penuh tanggung jawab moral.

“Upacara potong gigi merupakan bentuk penyucian diri agar manusia menjadi pribadi utama,” jelasnya. “Orang tua yang melaksanakan upacara ini untuk anak-anaknya berarti telah menunaikan kewajiban spiritual sebagai orang tua.”

Menutup siaran, Ni Ketut Oka Sutriani mengingatkan bahwa tujuan utama potong gigi adalah keseimbangan antara budi satwam, rajas, dan tamas, bukan untuk meniadakan sifat-sifat tersebut sepenuhnya. Sebab, dalam pandangan Hindu, kemajuan hidup hanya tercapai jika manusia mampu mengendalikan indria dan menyeimbangkan tiga sifat dasar itu dalam kehidupannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....