Tradisi Ngejot, Wujud Nyata Nilai Toleransi dan Kebersamaan

  • 13 Okt 2025 08:41 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar :Tradisi Ngejot kembali menjadi sorotan dalam siaran Galang Kangin edisi Senin, (13/10/2025) di Pro 4 RRI Denpasar. Dalam obrolan berdurasi sekitar 16 menit itu, Ajik Tibah dan Made Kapeng membahas makna dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Ngejot sebagai simbol toleransi antarumat beragama di Bali.

Ngejot merupakan tradisi berbagi makanan atau banten kepada tetangga, kerabat, maupun sahabat tanpa memandang perbedaan agama maupun status sosial. Umat Hindu di Bali biasanya melakukan tradisi ini menjelang hari raya Galungan, Kuningan, atau hari besar keagamaan lainnya. Sedangkan umat Islam di Bali juga mengenal kegiatan serupa menjelang hari raya Idul Fitri.

Kata ngejot sendiri berasal dari bahasa Bali yang berarti “memberi” atau “mengantarkan”. Pemberian tersebut bisa berupa makanan, jajanan, buah-buahan, atau hasil olahan rumah tangga. Menurut penyiar, tradisi ini sudah diwariskan secara turun-temurun selama lebih dari seratus tahun dan menjadi salah satu bentuk nyata dari ajaran Tat Twam Asi, yang artinya “Aku adalah kamu, kamu adalah aku.”

Selain sebagai wujud berbagi kebahagiaan, ngejot juga mengandung pesan moral untuk menumbuhkan rasa saling menghormati, menghindari iri hati, dan mempererat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk.

Di akhir siaran, Tibah dan Kapeng mengingatkan agar generasi muda Bali terus melestarikan tradisi luhur ini sebagai bagian dari identitas budaya dan perekat harmoni sosial.

“Dengan berbagi, kita tidak akan kekurangan. Justru dari berbagi itulah kita mendapat kebahagiaan sejati,” tutup Tibah.

 

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....