Memahami Penanggal dan Panglong dalam Tradisi Bali

  • 09 Okt 2025 07:50 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar : Program acara obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar, Rabu, (8/10/2025), menghadirkan bahasan menarik bertajuk “Penanggal Panglong”, yang mengulas sistem penanggalan tradisional Bali serta filosofi kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Dalam acara yang disiarkan melalui FM 106,4 MHz, berdurasi sekitar 20 menit tersebut, Ajik Tibah dan I Ketut Candra menjelaskan bahwa sistem penanggalan Bali dibangun berdasarkan peredaran bulan (sasih). Setiap bulan terdiri atas dua siklus utama, yaitu penanggal dan panglong. Penanggal dimulai ketika bulan baru muncul hingga mencapai purnama, sedangkan panglong berlangsung dari purnama menuju tilem (bulan mati).

“Penanggal itu ibarat masa pertumbuhan, saat bulan semakin terang, sementara panglong menggambarkan masa kemunduran, saat cahaya bulan berangsur redup,” jelas Ajik Tibah dalam siaran tersebut.

Makna penanggal dan panglong tidak hanya berkaitan dengan waktu, tetapi juga menjadi simbol perjalanan hidup manusia. Dalam penanggal, manusia diibaratkan sedang berkembang, belajar, dan mencari cahaya kebijaksanaan. Sedangkan pada masa panglong, manusia diingatkan untuk menurunkan ego, merenung, dan mempersiapkan diri menuju keseimbangan baru.

Menjelang akhir siaran, disampaikan pula penjelasan mengenai Sukla Paksa (paruh terang) dan Kersna Paksa (paruh gelap), dua fase bulan yang menjadi dasar perhitungan kalender Hindu Bali. Sukla Paksa melambangkan kecerahan dan kebahagiaan, sedangkan Kersna Paksa menandakan masa tenang dan introspeksi.

Program acara obrolan Galang Kangin ditutup dengan pesan filosofis: sebagaimana bulan yang terus berputar antara terang dan gelap, manusia pun harus mampu menyeimbangkan kehidupan lahir dan batin, agar senantiasa bersinar dalam kebajikan dan budi luhur.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....