Tumpek Wayang, Momen Tepat Refleksi Kehidupan Umat Hindu

  • 13 Agt 2025 10:47 WIB
  •  Denpasar

KBRN DENPASAR : Saniscara Kliwon Wuku Wayang, umat Hindu di Bali meyakini hari tersebut sebagai hari yang tenget dan penuh makna. Setiap 210 hari, umat hindu melakukan persembahyangan pada rahina Suci Tumpek Wayang. Dalam kepercayaan Hindu, hidup manusia diibaratkan seperti wayang, penuh lika-liku cerita, namun seluruh jalannya dituntun oleh dalang agung, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dr. I Nyoman Dayuh, S.Ag.,M.Si, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kota Denpasar menyatakan, di balik nuansa mistisnya, Tumpek Wayang sesungguhnya adalah panggilan untuk introspeksi, meruwat diri dari sifat buruk, dan mempersembahkan yadnya dengan tulus ikhlas demi keharmonisan hidup. Segala suka, duka, lara, dan pati yang kita alami adalah bagian dari perjalanan yang telah diatur oleh-Nya.

“Tumpek Wayang adalah momen untuk mengingat bahwa perjalanan hidup dan takdir manusia berada di luar kendali kita sepenuhnya. Dalam ajaran Hindu, wuku Wayang juga dikaitkan dengan energi yang kuat, sehingga umat diajak untuk melakukan persembahan suci (yadnya) dengan tulus ikhlas (lascarya), demi tercapainya keharmonisan lahir dan batin.” Jelasnya Nyoman Dayuh saat di wawancara RRI, Rabu (13/08).

Menurut lontar-lontar kuno seperti Purana Tattwa, Sundarigama, dan Lontar Sapuleger, Tumpek Wayang berkaitan erat dengan kisah kelahiran Bhatara Kala, putra Dewa Siwa yang lahir dari nafsu yang tak terkendali. Bhatara Kala memiliki kekuatan besar namun juga sifat memakan manusia, terutama mereka yang lahir pada wuku Wayang atau berada di luar rumah saat sandikala. Untuk melindungi dari pengaruh buruk tersebut, dilakukanlah upacara ruwatan Sapuh Leger, khususnya bagi seseorang dengan kelahiran pada wuku Wayang.

Hidup sebagai wayang berarti kita memainkan peran di bawah kendali dalang agung, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Segala perjalanan hidup, baik maupun buruk, merupakan bagian dari hukum karma yang kita bawa sejak lahir.

Untuk itu, ajaran Hindu mengingatkan tiga bekal penting dalam menjalani hidup yaitu Doa untuk memohon bimbingan dan perlindungan-Nya. Kemudian usaha, sebagai upaya sebaik mungkin dalam setiap peran yang dijalani. Lalu keyakinan untuk meningkatkan kepercayaan kita bahwa setiap peristiwa memiliki makna dan pelajaran.

Jika ruwatan dimaknai bukan hanya sebagai ritual setahun sekali, tetapi sebagai proses harian untuk membersihkan hati dari ego dan sifat buruk, maka kehidupan akan lebih harmonis, penuh kebahagiaan, dan kedamaian.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....