Jantra Tradisi Bali 2025 Semarak! 

  • 05 Jul 2025 04:43 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar: Jantra Tradisi Bali ke-5 yang merupakan rangkaian dari Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 disambut meriah oleh ratusan anak muda dari berbagai kabupaten/kota di Bali. Bertempat di sisi timur Lapangan UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Jumat (4/7/2025), ajang ini dimeriahkan oleh berbagai permainan dan olahraga tradisional khas Bali, seperti Mejaran-Jaranan, Tajog, Deduplak, dan Terompah.

Kegiatan dibuka dengan demonstrasi Mejaran-Jaranan oleh Komunitas Permainan Tradisional Banyuning, Buleleng — sebuah permainan warisan leluhur yang kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia. Permainan ini melibatkan strategi dan kekompakan tim, di mana pemain dituntut untuk cekatan dan cerdik dalam adu ketangkasan bergulat di atas "kuda" manusia.

Kabid Tradisi dan Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, menjelaskan bahwa Jantra Tradisi Bali tidak hanya lomba, namun sarat nilai edukasi dan pelestarian budaya. "Ini bukan sekadar kompetisi, tetapi ajang membangun rasa persaudaraan, menyama braya, dan gotong royong. Anak muda bisa bergembira sambil melestarikan warisan budaya," ujarnya.

Ia menambahkan, selain demonstrasi Mejaran-Jaranan, besok juga akan ditampilkan permainan tradisional Megandu dari Tabanan yang juga telah diakui sebagai WBTB Indonesia.

Antusiasme tahun ini meningkat signifikan. Para peserta dari berbagai daerah menunjukkan semangat luar biasa, termasuk kontingen dari Kabupaten Badung yang mengikuti semua kategori lomba. "Hari ini kami ikut di tiga kategori: Tajog putra, Deduplak putra, dan Terompah putri. Besok kami lanjut lomba Hadang putri," ujar Kabid Tradisi dan Warisan Budaya Disbud Badung, Ni Nyoman Indrawati.

Mejaran-Jaranan, permainan tradisional yang dulunya rutin digelar usai piodalan di Pura Gede Pemayun, kini kembali hidup dan menjadi sorotan. “Ini permainan penuh nilai. Selain ketangkasan fisik, pemain juga dituntut cerdas membaca situasi,” ujar Nyoman Mulyawan dari Komunitas Banyuning.

Dulu, permainan ini nyaris punah akibat perubahan lingkungan pura yang dipaving, tapi kini bangkit sebagai simbol pelestarian budaya. Jantra Tradisi Bali membuktikan bahwa warisan leluhur tak lekang oleh zaman—justru menjadi ruang ekspresi segar dan membanggakan bagi generasi muda Bali.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....