Kenali Ciri-Ciri dan Cara Mengatasi Mythomania

  • 24 Jun 2025 14:06 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar : Orang dengan mythomania syndrome sering berbohong dalam kehidupan sehari-hari, mengarang cerita yang dilebih-lebihkan agar mereka merasa lebih baik atas diri sendiri dan menarik perhatian orang lain. Orang dengan mythomania syndrome cenderung menganggap perilaku mereka sebagai bagian dari identitas dan merupakan hal yang wajar. Karena mereka menganggap kebohongan sebagai hal yang wajar, mereka pada akhirnya ikut mempercayai kebohongan mereka sendiri.

Ada ciri-ciri mythomania yang menonjol, yaitu:

Kebohongan sudah menjadi kebiasaan. Berbohong menjadi menjadi respons otomatis atau bawaan dalam berbagai situasi, bukan hanya sesekali.

Cerita-cerita bohong yang dilontarkan orang dengan mythomania syndrome biasanya rumit, detail, dan dramatis.

Isi dari cerita palsu sering kali bertujuan untuk membuat dirinya terlihat hebat, misalnya ia menjadi pahlawan dan melakukan hal hebat atau menjadi korban yang mengalami penderitaan luar biasa.

Kebohongan yang diucapkan biasanya terjadi tanpa motivasi atau alasan yang logis yang bisa dipahami orang lain.

Teguh mempertahankan kebohongan mereka, bahkan ketika ada bukti yang kuat untuk membantah kisah bohong mereka.

Agar lebih mudah dipahami, berikut ini beberapa contoh kasus mythomania, dikutip dari GoodTherapy:

Kebohongan diselipi "sedikit kebenaran": seseorang yang hanya flu bisa melebih-lebihkan bahwa gejala yang dialaminya adalah AIDS atau penyakit serius lain.

Kebohongan bisa tampil dalam citra yang positif: seseorang berbohong tentang prestasi yang mengesankan (misalnya, mengaku punya gelar Ph.D) daripada mengakui hal-hal yang merendahkan diri (misalnya, putus sekolah).

Cara mengatasi mythomania memerlukan pendekatan komprehensif yang harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi spesifik setiap individu. Perlu dipahami, mendiagnosis mythomania bisa menjadi hal yang cukup menantang bagi para profesional kesehatan mental. Sebab, gejala mythomania bisa mirip dengan gejala kondisi psikologis lainnya, seperti gangguan kepribadian antisosial, bipolar, hingga gangguan kepribadian narsistik.

Tantangan lainnya adalah pasien bisa saja berbohong atau mengubah gejala yang ia alami selama proses penilaian. Untuk mengatasinya, tenaga profesional harus membangun hubungan yang kuat dengan pasien sambil tetap bersifat objektif dalam pendekatan klinis mereka. Biasanya tenaga profesional menggunakan berbagai strategi terapi untuk membantu penderita mythomania syndrome mengelola perilaku berbohong kompulsif dan mengatasi masalah yang mendasarinya. Pertama, melalui pendekatan psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif (CBT), terapi perilaku dialektis (DBT), dan terapi psikodinamik.

Melalui CBT, penderita mythomania syndrome dapat mengenali hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku berbohong mereka. Sementara itu DBT menggabungkan strategi berbasis penerimaan dengan teknik berorientasi perubahan, membantu individu untuk mengelola emosi kuat yang mungkin memicu perilaku berbohong. Lalu, terapi psikodinamik menggunakan pendekatan yang menggali jauh ke dalam pengalaman masa lalu yang mungkin telah berkontribusi pada perkembangan kecenderungan mythomania. Tenaga profesional kesehatan mental yang berkualifikasi dapat membantu menentukan pendekatan terapi atau kombinasi pendekatan mana yang paling sesuai untuk situasi spesifik penderita mythomania syndrome.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....