Proses Ngulapin, Memanggil Roh yang Tersentak saat Kecelakaan
- 18 Jun 2025 11:22 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Umat hindu sering mendengar dan menerapkan proses ngulapin pasca terjadinya kecelakaan di jalan. Ngulapin merupakan salah satu ritual penting yang bersifat sangat praktis namun kerap kehilangan makna esensialnya dalam pelaksanaannya.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H menyatakan bahwa kata ngulapin dari berasal dari kata dasar ulap yang dalam bahasa Bali bisa bermakna memanggil kembali, atau lebih dalam lagi, mengajak pulang roh kepada raga kasarnya. Proses ini sangat erat kaitannya dengan kejadian-kejadian tak terduga yang menyebabkan terkejutnya badan kasar, seperti kecelakaan, jatuh, atau peristiwa mendadak lain yang membuat atma atau jiwa seseorang “terlepas” dari raga.
“Ritual ngulapin ini bukan hanya sekadar seremoni untuk memanggil roh kembali ke tubuh. Ia mengandung fungsi pejatian, sebagai kesaksian batin atas kejadian yang dialami seseorang. Namun, pejatian ini belum berarti pencapaian tujuan utama dari ngulapin. Ngulapin lebih dari itu, ngulapin adalah proses mengharmoniskan kembali hubungan antara roh, badan kasar, dan atma.” Jelasnya saat di wawancara RRI Rabu (18/06).
Pada saat kecelakaan terjadi, roh bisa meloncat keluar dari badan kasar karena trauma atau rasa terkejut hebat. Bila seseorang selamat dari kecelakaan tapi tidak segera di-ulapin, maka bisa terjadi kebingungan jiwa. Menurut Nyoman Arya, sebaliknya jika seseorang meninggal dunia karena kecelakaan tanpa melalui proses ngulapin yang benar, atma bisa mengalami kesasar atau roh yang masih belum ikhlas meninggalkan badan kasarnya.
Dalam praktiknya Nyoman Arya menjelaskan proses ngulapin dilakukan dengan menghaturkan banten ngulapin yang terdiri dari beberapa bagian penting, yaitu:
1. Daksina, yang berisi canang, tumpeng, dan buah-buahan (pisang sebagai penghormatan).
2. Sanggah urip, sebagai simbol kehidupan.
3. Menyertakan Banten pocong-pocongan, khusus jika korban meninggal.
4. Peras tulung sayut, sampian pusung, dan tulung alit berjumlah empat.
5. Tempeh dan taledan, sebagai alas banten.
Jika kondisi korban kecelakaan yang masih hidup, ritual ngulapin dengan banten ini dilakukan dengan menyentuh jidat dan dada sambil memanggil nama mereka, sebagai bentuk panggilan kembali roh yang sempat terlepas. Berbeda untuk korban yang meninggal, prosesi menjadi lebih kompleks, dilakukan dalam tiga tahapan: ngulapin, setelah itu nebusin, dan nebas.
Nyoman Arya menegaskan pula bahwa dalam konteks upacara kematian, dikenal juga banten giri pati, yang seharusnya digunakan sebagai pelengkap prosesi ngaben. Namun, bila roh belum melalui proses ngulapin, maka menghaturkan giri pati terlalu dini justru tidak tepat. Karena roh belum siap untuk melinggih di tempat tinggi seperti puncak gunung sebelum dilepaskan dari ikatan badan kasarnya.
"Kalau sebelum upacara ngaben tdk ada upacara ngelinggihang," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....