Kebohongan yang Tidak Dilarang dalam Weda
- 03 Mei 2025 16:25 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Jujur adalah perbuatan atau perilaku yang baik, namun terkadang berbohong juga diperlukan. Menurut Ni Putu Sukma Apty Utami dalam Siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar belum lama ini mengatakan ada kebohongan yang dibenarkan dalam ajaran agama Hindu dan tidak dilarang oleh weda. Kebohongan yang dibenarkan ini disebut dengan Panca Nrta atau 5 kebohongan yang tidak dilarang oleh weda.
Lebih lanjut Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Badung ini menjelaskan 5 kebohongan yang tidak dilarang oleh weda antara lain sebagai berikut.
1. Berbohong kepada anak-anak.
Kadangkala anak-anak ada dalam usia yang sulit diberitahu atau sulit untuk dinasehati bahkan diberi larangan jangan. Jadi berbohong kepada anak dalam usia tersebut diperlukan dalam kondisi tertentu terutama ketika anak sedang bandel. Ini untuk menghindarkan anak-anak dari hal-hal yang membahayakan. Contohnya ketika anak bepergian atau ke tempat yang ramai kadangkala anak-anak senang dan cepat akrab dengan orang lain. Untuk mengantisipasi terjadinya penculikan atau anak kita hilang maka kita bisa membohongi anak kita dengan cara mengatakan bahwa “Adik, jika adik bertemu dengan orang lain, adik jangan percaya begitu saja, biasa jadi nanti adik diculik dan dibawa pergi jauh dari ibu dan ayah”. Jadi memunculkan rasa takut pada anak sehingga anak akan lebih mudah untuk dikontrol terutama jika bepergian atau ke tempat yang ramai. Berbohong kepada anak-anak. Contoh lainnya, anak-anak suka makan makanan yang sembarangan. Untuk mengantisipasi anak tidak menjadi sakit karena terlalu sering makan sembarangan jadi orang tua bisa mengatakan kebohongan seperti, “Adik jika adik terlalu sering makan makanan yang mengandung pengawet, chiki atau minuman kemasan nanti adik bisa masuk rumah sakit dan adik akan terus disuntik oleh dokter, adik akan diambil darahnya untuk di cek. Ini merupakan salah satu kebohongan yang diperlukan.
2. Berbohong dalam dunia berdagang.
Sebagai seorang pedagang, tentunya kita memerlukan keuntungan ketika melakukan transaksi. Jadi tidak serta merta bahan dagangan kita yang modalnya 10 ribu rupiah dijual juga seharga 10 ribu rupiah. Jika kita tidak mencari keuntungan lalu bagaimana cara kita untuk bertahan bahkan untuk memperluas usaha atau dagangan kita atau mencapai kesuksesan. Agar tidak mendapatkan kerugian di sini perlu kebohongan.
3. Berbohong kepada musuh.
Tentu dalam menjaga keselamatan diri kita sendiri, berbohong sangatlah diperlukan. Kebohongan yang kita lakukan kepada musuh bahkan sudah dicontohkan oleh leluhur kita terdahulu. Dalam kitab Mahabarata diceritakan saat perang Barata Yudha, Guru Drona dibohongi oleh Sang Dharmawangsa atau Yudistira yang mengatakan bahwa Aswatama telah gugur padahal dimaksud adalah Gajah yang bernama Aswatama bukan Aswatama yang merupakan putra dari Guru Drona. Ketika Guru Drona mendengar nama Aswatama telah gugur beliau melepaskan senjatanya sehingga beliau gugur di tangan Drestajumna. Apabila Guru Drona tidak gugur di medan perang kemungkinan besar akan sangat sulit bagi Pandawa untuk mencapai kemenangan itu.
4. Berbohong kepada pasangan hidup.
Berbohong kepada pasangan dalam hal ini bukan karena memadu kasih atau memadu cinta dengan orang lain. Namun kebohongan sederhana, contohnya masakan Istri yang hasil masakannya sedikit asin, namun ketika disajikan kepada Sang Suami maka suami hendaknya menghargai dengan berbohong kepada istrinya bahwa masakannya sangat lezat sekali, luar biasa dan sangat pas. Itu kebohongan yang dimaksud yang ditujukan kepada pasangan hidup. Hal ini bertujuan untuk menjaga keharmonisan dengan pasangan.
5. Berbohong kepada orang sakit.
Ketika menghadapi orang sakit, terutama anak yang sedang sakit dan akan memberikan obat, perlu adanya kebohongan, jadi obat yang pahit kita katakan rasanya manis seperti permen supaya anak yang sedang sakit mau mengonsumsi obat itu. Selanjutnya bertujuan untuk meningkatkan semangat bagi orang yang sedang sakit. Jadi berbohong kepada orang sakit juga diperbolehkan.
Demikian kebohongan yang diperkenankan dengan tujuan baik di baliknya. Namun jika melakukan kebohongan yang bertujuan untuk membodohi orang lain, menutupi kesalahan maupun merugikan orang lain, hal tersebut adalah dosa. Panca Nrta adalah kebohongan dengan alasan bertujuan yang baik demi menjaga keharmonisan. Keharmonisan yang dimaksud ini mencakup banyak hal, tutup Putu Sukma.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....