Warna Lulut Berbeda, Pertanda Prawesa Apa
- 01 Apr 2025 07:39 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Prawesa dalam ajaran agama Hindu berarti mengalami keletuhan dari siksa Bhuta yang terjadi pada pelemahan. Maka dari itu ajaran Agama Hindu Prawesa mengingatkan kita untuk senantiasa harmonis dengan alam atau palemahan. Jika telah harmonis dengan alam atau palemahan maka kehidupan kita akan semakin bahagia. Untuk menghilangkan prawesa di palemahan dapat dilakukan dengan sarana berupa upakara atau banten penyucian karang.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Gianyar, I Made Ono Susanto, S.Sn. mangatakan Prawesa yang umum ditemukan di pekarangan atau pelemahan adalah ditandai dengan adanya binatang-binatang yang tidak seharusnya ada di pekarangan atau rumah. Padahal lokasi rumah tidak dekat dengan dengan kebun atau hutan. Binatang ini salah satunya adalah ulat Lulut.
Pada siaran Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Denpasar pagi tadi (Selasa, 1 April 2025), Made Ono menyampaikan dalam lontar Roga Segara Bumi, Prawesa dengan petanda binatang Lulut ini masuk pekarangan atau rumah artinya berbeda disesuaikan dengan warnanya.
1. Lulut berwarna tembaga menjadi pertanda bahwa dulunya pekarangan tersebut pernah terkena petir sehingga menyebabkan tempat itu kadurmanggala sehingga harus diparisudha atau dibersihkan. Jika tidak dilakukan akan menyebabkan penghuninya sakit atau terkena bahaya.
2. Lulut berwarna putih atau selaka sebagai pertanda bahwa salah satu leluhur di rumah atau tempat itu mendapat kesengsaraan sehingga meminta sentana atau keturunannya untuk mengadakan penyucian atau pembersihan.
3. Lulut berwarna emas merupakan pertanda bahwa penyucian karang atau pekarangan yang dilakukan sebelumnya belum sempurna. Pekarangan ini dulunya bekas tanah tegalan atau tanah sawah sehingga ada perlakuan berbeda yang harus dilakukan terhadap jenis tanah ini, seperti ngeruwak, nyepih dan mesakapan karang. Jika tidak dilakukan maka akan mendapat mara bahaya sehingga perlu dibersihkan.
Banten yang dihaturkan untuk pembersihan Prawesa ini adalah pejati yang dihaturkan di Betara Hyang Guru di sanggah Kemulan. Sedangkan di tempat Lulut pertama kali ditemukan bantennya segehan nasi cacah berwarna hijau yang dialasi dengan sidi dilengkapi dengan celebongkak atau kelapa yang sudah dibelah dua lalu diisi dengan nasi dan gula merah. Kemudian untuk rumah dibersihkan dengan prayascita dan durmanggala, tutup Made Ono.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....