Dewa dan Bhatara Dalam Pemujaan Masyarakat Hindu Bali

  • 05 Feb 2025 09:46 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar : Konsep dasar yang harus diyakini dalam Agama Hindu adalah Panca Sradha. Panca itu berarti lima dan Sradha berarti keyakinan atau kepercayaan. Jadi Panca Sradha berarti lima dasar keyakinan Agama Hindu, yang harus diyakini kebenarannya. Pertama, kita harus yakin kepada Tuhan atau Brahman, disebut Widhi Sradha. Kedua kita percaya kepada Atma atau percikan kecil dari Sanghyang Widhi, disebut Atma Sradha. Yang ketiga, kita percaya adanya hukum Karmaphala, hasil dari perbuatan kita sendiri, disebut Karmaphala Sradha. Selanjutnya yang keempat percaya dengan adanya Punarbawa atau Samsara, yakni kita percaya adanya reinkarnasi atau kelahiran kembali, disebut Punarbawa Sradha.Dan yang terakhir, kita percaya adanya Moksa atau kebebasan yang tertinggi. Kalau kita berbicara tentang dewa dan bhatara, itu berada dalam tataran Widhi Sradha. Hal tersebut mengawali acara dialog Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, FM 106,4 MHz, Sabtu, (1/1/2025)

Dialog pagi yang menghadirkan para penyuluh Agama Hindu dari Kementrian Agama Kota Denpasar, yakni Ida Bagus Gede Bawa, Made Gede Chandra dan Ida Ayu Ratih tersebut, mengungkapkan bahwa, dalam Yajur Weda, supta 29, mantra 30 disebutkan, sradaya satyam abnoti sradham satyaprajapati. Artinya, bahwa dengan sradha itu, orang akan mencapai Tuhan. Beliau menetapkan bahwa, dengan sradha, bisa menuju satya atau kebenaran itu sendiri. Dalam implementasi kepercayaan kita kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering mengimplementasikan dengan melaksanakan pemujahan kepada dewa atau bhatara.

“Umat Hindu di Indonesia, dan di Bali pada khususnya, ketika menuangkan implementasi dari Widhi Sradha tersebut dengan banyak cara. Makanya di Bali banyak terdapat dewa-dewa atau bhatara yang berdasarkan fungsi dan manifestasinya. Kalau kita mengutip salah satu manifestasi dewa, ada yang disebut dengan Awatara, dimana manipasasinya dewa itu menjelma atau terlahir ke dunia. Artinya, wujud dewa itu akan turun ke dunia mengambil wujud yang disebut dengan Awatara” jelas Ida Bagus Gede Bawa.

Berkaitan dengan dewa dan bhatara, yang pertama dewa, kalau kita artikan dari bahasa sanskertha, berasal dari kata dev, artinya sinar suci. Jadi dewa adalah sinar suci, Sanghyang Widhi Wasa, dengan fungsi sesuai dengan manifestasinya. Ada banyak nama dewa dalam agama Hindu, tetapi yang paling sering digunakan di Bali adalah Dewata Nawa Sanga, sembilan dewa berdasarkan penjuru mata angin. Di luar yang sembilan itu masih banyaksebutan dewa. Kemudian, kalau kita lebih kerucutkan lagi, di dalam Agama Hindu, ada tiga dewa yang paling memiliki fungsi, di sebut Tri Murti, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Kemudian Tri Murti menjadi Tri Kono,yakni Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan Dewa Siwa sebagai pelebur. Kemudian ada istilah bhatara, berasal dari kata bhat, dalam bahasa sanskertha artinya pelindung. Jadi, bhatara adalah jiwa suci yang menjadi pelindung dunia. Di setiap daerah, memiliki bhatara yang berbeda-beda. Di bali sendiri, kita mengenal banyak bhatara, yang sesungguhnya sudah diketahui bahkan sebelum Agama Hindu, memasuki Bali. “Makanya, kalau kita ke pura di Bali, banyak pelinggih untuk bhatara. Seperti palinggih Ratu Nyoman Sakti Pengandangan, palinggih Ratu Ayu, palinggih Ratu Gede Mas Macaling, palinggih Ratu Niyang Sakti dan lain sebagainya. Kenapa beliau disebut bhatara? Karena kepada beliau-beliau itu lah kita memohon perlindungan sesuai dengan artinya bhatara, yaitu memberikan perlindungan. Kita memohon perlindungan”, tambah Gede Bawa.

Demikian juga ketika kita memohon perlindungan kepada orang tua, maka orang tua kita juga disebut bhatara. Makanya orang tua disebut bhatara sekala. Di atas orang tua, kita memohon perlindungan chatur dasa pitara, sampai Ida Sanghang Widhi Wasa yang paling atas. Ada orang tua, ada kakek, ada nenek, dan seterusnya. Sampai kawitan, akhirnya sampai pada Ida Sanghyang Widhi. Makanya dewa yang paling dekat adalah orang tua kita. Kepada beliau kita memohon perlindungan. “Jadi kalau kita kaitkan apa namanya bhatara-bhatara itu, dengan apa yang kita lakukan pemmujaan, seperti yang yang katakan tadi bahwa itu adalah bhatara lokal. Karena kepada itu kita memohon perlindungan’, jelas Ida Bagus Gede Bawa.

Kalau kita bedakan antara dewa dan bhatara, kalau kita lihat pengertiannya, Dewa itu adalah sinar suci dari Tuhan itu sendiri. Ketika Dewa ini menjalankan fungsinya maka dia akan disebut bhatara juga. Contoh, sinar suci dari Tuhan, salah satunya adalah Tri Murti, ketika beliau menjalankan fungsinya , misalnya ketika Dewa Brahma mencipta, maka beliau disebut dengan Bhatara Brahma. Ketika Dewa Wisnu menjalankan fungsinya sebagai pemelihara, maka beliau disebut dengan Bhatara Wisnu. Demikian juga ketika Dewa Siwa menjalankan fungsinya sebagai pelebur, maka akan disebut Bhatara Siwa. “Jadi antara dewa dan bhatara, kalau dikatakan berbeda, ya berbeda. Kalau dikatakan tidak, ini sangat tipis”, jelas Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....