Dari Tumpang 3 Hingga 21, Ini Makna Tingkatan Bade
- 25 Jan 2025 15:17 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar: Bade merupakan tempat untuk membawa jasad dari rumah duka menuju tempat pembakaran dalam tradisi Ngaben. Bangunan ini merupakan simbol karya seni arsitektur sekaligus simbol spiritual, bade memiliki fungsi yang mendalam baik bagi keluarga yang melaksanakan upacara maupun masyarakat yang terlibat di dalamnya. Obyek ini dirancang menyerupai menara tinggi yang dibuat dari susunan bambu, dihiasi kertas berwarna-warni, sepuhan emas, dan ornamen khas lainnya. Warna dominan seperti merah, putih, hitam, dan biru sering digunakan, mencerminkan harmoni alam semesta.
Pembuatan bade bukanlah pekerjaan sederhana. Selain memerlukan waktu, biaya, dan tenaga yang besar, pembuatan bade mengikuti aturan khusus yang diwariskan secara turun-temurun. Bade dipanggul bersama-sama oleh masyarakat sebagai bentuk gotong royong dan penghormatan terakhir kepada mendiang. Bade juga mencerminkan status sosial mendiang dalam masyarakat. Umumnya, bade digunakan oleh golongan masyarakat terpandang seperti raja, keluarga bangsawan, brahmana, atau pemimpin masyarakat. Sementara warga biasa menggunakan wadah yang lebih sederhana. Secara umum, tingkatan bade dibedakan menjadi tiga, yaitu Nista (Sederhana), Madya (Menengah), serta Utama (Tinggi). Tingkat bade tidak hanya menunjukkan status sosial, tetapi juga simbolisasi kosmos. Tingkat tumpang pada bade berkisar dari tiga hingga dua puluh satu, masing-masing melambangkan kekuasaan dan lapisan alam semesta.
Dirangkum dari Buku ’Bade Dalam Prosesi Ngaben Masyarakat Bali’ karya Sudharma Putra & Santosa (2020), tidak sembarang orang diperkenankan menggunakan tingkatan (tumpang) tertentu). Sebagai contoh, pada golongan kasta ksatria di Bali. Bade untuk raja penguasa tunggal dilengkapi dengan ornamen naga banda dan tumpang sebelas (megunung solas), melambangkan kekuasaan mutlak atas seluruh penjuru mata angin. Konsep ini berakar dari kepercayaan dewa raja yang memandang raja sebagai perwujudan Dewa Siwa. Bade untuk golongan kesatria dalam tradisi Bali dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu bade untuk raja penguasa tunggal dan raja di bawah penguasa tunggal.
Bade yang digunakan oleh raja penguasa tunggal dilengkapi dengan ornamen naga banda. Struktur bade ini menyerupai bangunan meru, namun keseluruhannya dibuat dari kayu yang dilapisi kertas berwarna-warni, terutama warna emas. Bade ini memiliki atap bertingkat yang melambangkan alam semesta serta puncak-puncak gunung, yang digambarkan melalui jumlah tingkat (tumpang) ganjil seperti 11 (megunung solas), 9 (megunung sia), 7 (megunung pitu), 5 (megunung lima), dan 3 (megunung telu). Tumpang sebelas menggambarkan kekuasaan mutlak raja atas penjuru mata angin, langit, dan bumi, yang sejajar dengan kekuasaan Dewa Siwa. Konsep ini didasarkan pada pandangan bahwa raja adalah perwujudan dewa (dewa raja).
Disebutkan dalam lontar Sukat Wadah/Bade, dijelaskan bahwa bade tertinggi memiliki 21 tingkat. Selain itu, ada pula tingkat genap seperti 4, 8, dan 10, tetapi jarang digunakan karena terkait dengan status kebangsawanan. Jumlah tingkat bade melambangkan kekuasaan seseorang, lapisan alam semesta, dan dewa-dewa penguasa penjuru mata angin. Kemudian, apabila Raja merupakan Raja yang berada di bawah penguasa tunggal, maka beliau akan menggunakan bade dengan tumpang sembilan (megunung sia), yang juga dapat digunakan oleh anggota keluarga raja penguasa tunggal. Tumpang sembilan melambangkan kekuasaan hingga sembilan penjuru mata angin, yang mencerminkan wilayah kerajaan seperti kekuasaan para dewa.
Golongan kesatria yang tidak memiliki jabatan sebagai raja menggunakan bade dengan tingkat di bawah raja, misalnya tumpang tujuh, yang diberikan berdasarkan anugerah dari raja penguasa tunggal. Jumlah tingkat pada bade ini memiliki makna simbolis, seperti bilangan tujuh yang melambangkan kekuasaan atas utara, selatan, timur, barat, bawah, tengah, dan atas. Sementara itu, bilangan lima mencerminkan kendali atas utara, selatan, timur, barat, dan tengah, sedangkan bilangan tiga melambangkan tiga dunia, yaitu alam bawah, tengah, dan atas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....