Filosofi Kwangen Dalam Agama Hindu
- 16 Nov 2024 11:46 WIB
- Denpasar
KBRN Denpasar : Kwangen berasal dari kata dasar wangi, yang artinya harum. Kemudian mendapatkan awalan ka dan akhiran an, menjadi kawangian, disandikan menjadi kwangen artinya keharuman, yang berfungsi untuk mengharungkan nama Ida Sanghyang Widhi Wasa atau Tuhan yang Maha Esa. Jika dikaitkan dengan hurup suci, Kwangen merupakan Ongkara, di mana kata Ong atau Oum adalah hurup suci. Singkat dan mudah diingat, tetapi mempunyai makna yang sangat luar biasa sekali.
Demikian juga dalam bentuk upakaranya, Kwangen memiliki bentuk yang kecil, mungil, praktis dan indah, serta berbau harum. Keharuman Kwangen merupakan suatu pertanda atau isyarat, agar umat Hindu senantiasa mengingat, mengucapkan dan mengharumkan nama suci Tuhan itu sendiri. Keberadaan Kwangen sangat penting dalam upacara persembahayangan karena memiliki makna dan simbolik yang dipuja, yaitu Tuhan yang Maha Esa atau Ida Sanghyang Widhi Wasa. Hal tersebut dijelaskan dalam acara Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, FM 106,4 MHz, Sabtu, (16/11/2024), oleh penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar, Ida Bagus Made Putra.
Putra mengungkapkan, bahwa sebagai simbolik Tuhan, Kwangen dibuat dengan bentuk yang indah, dengan bahan-bahan yang indah, juga harum. Sudah barang tentu kalau sudah dari bahan-bahan yang indah dan harum, berarti kita harus menggunakan sarana-sarana yang masih segar. Dalam hal ini dapat dimaknai bahwa Tuhan adalah indah, harum dan suci sehingga menarik untuk dipuja dan dimuliahkan. Dalam lontar Siwa Gama disebutkan, bentuk Kwangen sebagai simbol Ongkara. Dalam bentuk Ongkara, Kwangen memiliki ukuran bentuk yang kecil yaitu bagian bawah lancip dan bagian atasnya adalah mekar, atau seperti bunga sedang berkembang.
“Kwangen biasanya terdiri dari kojong dari daun pisang, plawa, porosan, pis bolong dan bunga-bunga harum yang ditusuk dengan semat atau istilannya untuk penyangganya. Semua bahan tersebut dipadukan atau disatukan. Porosan dan plawa dimasukkan ke dalam kojong, selanjutnya sampai bunga-bunga harum dan terakhir adalah pis bolong”,jelas Putra.
Kwangen digunakan sebagai sarana dalam upacara keagamaan, yaitu sebagai pelengkap upakara atau bebantenan. Kwangen paling banyak digunakan dalam upacara persembayangan. Selain itu juga sebagai pelengkap upakara atau upacara yadnya. Banyak unsur-unsur yang terdapat dalam Kwangen, di samping sebagai keindahan hasil dari kreativitas manusia, pada prinsipnya adalah untuk menuhi kepuasan bathin atau rohani bagi masyarakat yang menggunakannya. Kehidupan manusia dalam keseharianya selalu memerlukan keindahan.
Untuk memenuhi kepuasan bathinnya, baik yang diperoleh dari keindahan alami maupun keindahan karya manusia. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan keindahan dan estetika, karena keindahan sebagai penyeimbang logika manusia. Jadi kalau manusia sudah bisa melihat sesuatu yang indah-indah, otomatis logikanya bisa berjalan dengan baik.
“Keindahan dan seni sebagai penghalus hidup manusia. Tanpa keindahan dan estetika, hidup manusia akan terasa kaku dan kehilangan nilai rasa. Oleh karena itu kehadiran karya estetika dibutuhkan manusia sebagai penghalus rasa kehidupannya”, tambah Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut.
Kwangen memang bukan karya seni, karena tidak sengaja diciptakan untuk keperluan seni. Akan tetapi tanpa disadari Kwangen yang merupakan sarana dalam persembahyangan umat Hindu di Bali memiliki keindahan atau estetika yang sangat dimuliakan. Di samping itu Kwangen juga sebagai sarana dalam persembahyangan yang ditunjukkan kepada Tuhan, hendaknya membawa uuara bathin yang indah, senang, suci, khusuk, dan nyaman. Sehingga memudahkan untuk berkonsentrasi dalam memuja atau memuliakan Tuhan.
“Jadi jika kita sudah punya konsentrasi yang baik, keindahan-keindahan yang baik, tentunya untuk memuja Tuhan. Kita bisa laksanakan dengan khusuk. Karena itulah Kwangen dibuat dengan bentuk yang indah, yang mampu menciptakan suasana senang, suci, khusuk, dan nyaman dalam bersembahyang”, ungkap Ida Bagus Made Putra.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....