Pemimpin dalam Perspektif Agama Hindu

  • 25 Okt 2024 21:47 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar : Beberapa saat lagi ini kita akan melaksanakan pemilihan umum kepala derah atau pemilukada. Kita akan memilih, kita akan menentukan suara hati nurani kita, untuk memilih pemimpin di masing-masing daerah. Kalau kita napaktilas, terkait dengan kepemimpinan yang kita kenal secara mendunia di peradaban-peradaban dunia seperti India, Roma, Yunani dan yang lainnya, sangat berpengaruh dalam sistem kepemimpinan di dunia.

Dinamika kepemimpinan itu tentu mempengaruhi dalam sistem pemerintahan, dalam sistem demokrasi yang kita kenal sampai saat ini, yaitu ada sistem Monarki, yakni pemerintahan seseorang, atau individu yang akan mewarisi kekuasaannya dan Oligarki, yakni pemerintahan oleh seklompok kecil individu yang sangat kuat dan kaya sekali. Kemudian juga ada sistem yang kita kenal dengan sistem Teokrasi, yaitu kerajaan yang memang masih hidup, masih berkembang sampai saat ini, seperti di Inggris, Belanda, masih dipimpin oleh seorang raja atau ratu dan memakai perdana menteri. Bahkan ada juga sistem negara yang disebut dengan sekuler, bahwa dalam beragama tidak diatur oleh negara seperti yang kita kenal di India. Hal tersebut terungkap dalam acara Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, FM 106,4 MHz, oleh penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar, I Nyoman Dayuh, Rabu, (23/10/2024).

Menurut Dayuh, apapun itu rentang jaman atau sistem pemerintahan yang pernah kita kenal di dalam negara-negara dunia ini. Tapi yang jelas seorang pemimpin hendaknya mempunyai tujuan yang mulia, yaitu mensejaterakan rakyatnya, dengan prinsip-prinsip untuk menegakkan kebenaran, dalam agama Hindu dikenal dengan istilah Satyam Eva Jayate. Sosok pemimpin yang harus kita tentukan menjadi guide line nanti, menentukan siapa yang sejalan dengan hati nurani kita, yaitu pemimpin-pemimpin yang punya rekam jejak di dalam kehidupan sosialnya, di dalam kehidupan beragamanya, di dalam kehidupan politiknya, di dalam kehidupan budayanya, dalam kehidupan ekonominya yang memegang teguh kebenaran itu sendiri. “Apabila calon pemimpin yang sudah melakukan korupsi, melakukan tindakan-tindakan curang, calon pemimpin yang tidak cinta kasih pada masyarakatnya, tidak berpegangan teguh pada ajaran-ajaran kebenaran, tentu akan menjadi pertimbangan kita untuk tidak memilih pemimpin-pemimpin yang seperti itu”, kata Dayuh.

Ajaran hindu mengenal ada beberapa dinamika kepemimpinan utamanya yang berhubungan dengan diri sendiri, komunal, juga dalam hubungannya dengan kenegaraan di rentang jaman, yaitu ada Satya Yuga, Treta Yuga, Duapara Yuga, dan kali yuga. Tapi di rentang jaman sekarang ini dikatakan jaman kali yuga disebutkan, ritekaning yuganta kali, tan hana luiha sangkeng sangyang maha dana. Artinya, bahwa di jaman Kali Yuga ini, yang paling utama, yang paling mulia itu adalah dana atau uang. “Nah ini yang perlu juga kita waspadai, yaitu ada istilah yang tersebut dengan money politik atau politik uang, ada yang disebut dengan serangan fajar. Nah ini yang dimaksud jaman Kali Yuga uang yang menguasai”,tambah Dayuh.

Dalam kitab Niti Sastra disebutkan, tanwaktan, sura, ghuna, phandita, widagda, sami,mengayat ing Sang Danaiswara. Artinya tidak melihat entah kah itu orang bijaksana, entah kah itu orang pintar, cerdas, orang suci, semua tunduk pada uang atau materi. Di sini lah akan kehilangan nalar, kehilangan akal sekat kita, bahkan hati nurani kita mulai tertutup gara-gara hal-hal yang bersipat materialistik di dalam menentukan apa yang kita pilih, yang kita akan jadikan pemimpin di tingkat daerah, sehingga kita terjebak oleh hal-hal yang bersipat materialistik.

Jaman Kali Yuga yang kita jadikan rujukan dalam teks Nitisastra berbeda dengan jaman-jaman sebelumnya. Di jaman Satya atau Kertha Yuga misalnya, tingkat kejujurannya sangat tinggi, tingkat kejahatannya, tingkat tindakan kecurangannya sangat-sangat minim, bahkan tidak ada. Namun menjadi catatan kita di semua, rentang jaman yang dalam perspektif agama itu baik di jaman Satya atau Kertha Yuga, ternyata, Dua Para Yuga, Treta Yuga dan Kali Yuga sebenarnya itu satu-kesatuan yang akan tetap ada.

“Pastilah dualitas antara baik dan buruk, antara kemurnian dan tidak murni, antara kejujuran dan ketidak jujuran, akan tetap ada. Pandawa saja, 5 orang punya musuh 100. Artinya apa, hal-hal yang bijaksana, pemberani seperti Bhima, bijaksana seperti Yudhisthira, pemanah yang ulung, yang cerdas seperti Arjuna, cinta kasih, yang lembut, yang kasih sayang seperti Nakula Sadewa, tetap ada. Tapi musuh-musuh yang lebih besar juga ada. Ini juga menjadi refleksi cerminan kita nanti apabila kita menentukan pemimpin-pemimpin utamanya ditingkat pemilukada. Itu terkait dengan bagaimana pandangan agama yang memang sangat-sangat universal, menggunakan hak pilih kita sejalan dengan hati nurani kita”, kata penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut.

Ditambahkan, apabila kita rujuk kembali teks-teks yang terdapat di dalam Bhagawadgita, apapun jamanya, dualitas Dharma dan Adharma, Satya dan Asatya, kebenaran dan kebatilan, keadilan dan ketidakadilan akan selalu ada. Akan tetapi, sangat jelas ketika berada di dua hal ini, memunculkan keambiguan kita, keraguran kita di dalam menentukan pilihan. Namun akan muncul kesadaran sejati dalam diri, yang kita sebut dengan hati nurani. “Suara hati nurani yang tidak bisa dibohongi, itu kita lakukan untuk menentukan pilihan kita”, kata I Nyoman Dayuh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....