Filosofis Sebutan Ratu Gede dan Ratu Ayu dalam Hindu

  • 17 Okt 2024 10:13 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar : Dalam masyarakat Hindu di Bali, sering kita mendengar sebutan Barong dan Rangda. Banyak orang menyebut Barong itu dengan sebutan Ratu Bagus, Ratu Gede dan Rangda dengan memberikan sebutan Ratu Ayu. Barong dan Rangda di Bali diberi sebutan Ratu Gede dan Ratu Ayu, dan masih banyak lagi sebutan yang lainnya. Di dalam memberikan gelar atau sebutan, di Bali ada konsep yang disebut dengan Rwa Bhineda. Ada jaba, ada jero. Kalau kita berbicara jaba, maka dalam proses petapakan itu disebut dengan Barong dan Rangda. Tetapi kalau sudah dalam konsep jeroan, maka jangan menyebut Rangda dan Barong. Karena dia dalam proses sakralisasi yang cukup panjang. Di antaranya itu ada proses yang disebut dengan pemelaspas, pasupati, ada proses sebut dengan ngerehang, ada proses yang disebut dengan napak stiti. Ini sebenarnya sudah melalui tahapan-tahapan.

Hal tersebut diperbincangkan dalam dialog Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, oleh Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, Ni Nyoman Ciri, dan IGA. Diah Prameswara , Jumat, (11/10/2024). Dijelaskan, kalau diibaratkan dalam linkungan pendidikan, ada pra tesis, ada tesis dan ada ujian tesis. “Maka selama proses ini, tidak segampang itu kita memberikan gelar. Sama dengan kuliah, kalau kuliahnya S1, jangan bergelar doktor, itu berarti orang setres itu. Setelah melalui proses, kalau sudah di jeroan, Barong itu disebut dengan Ratu Gede, ada Ratu Bagus. Dan kalau Rangda, disebut dengan Ratu Ayu. Lalu bagaimana kombinasi penaman gelar ini? Ini sebenarnya, dua hal yang menjadikan suatu yang disebut dengan Rwa Bhineda, tetapi menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan”, kata Arya.

Lalu timbul pertanyaan, mengapa Rangda yang berwajah seram begitu di panggil Ratu Ayu, dan Barong yang menakutkan bisa dipanggil Ratu Gede atau Ratu Bagus?. Lebih lanjut Nyoman Arya menjelaskan, bahwa Ratu Ayu adalah gelar untuk Rangda wang wujudnya adalah samia artinya alus. Jadi Rangda ini sebenarnya jiwanya alus. “Makanya di dalam prosesi menarikan Rangda ini, bukan dalam prosesi yang galak, melaikan lemah lembut seperti wanita. Ada masucian, ada makramas. Walaupun dari segi wujud yang kita lihat, taringnya panjang dianggap galak”, kata Arya.

Ada suatu kekuatan, yang sangat-sangat kuat di dalam Rangda ini. Rangda yang berwajah menakurkan, sebagai expressi dari kekuatan yang maha perkasa dari Dhurga. Wujud Rangda yang seram, disebut Ratu Ayu, karena ratu kecantikan berdasarkan kenyataan yang berlaku di dunia, bahwa kecantikan itu dapat menundukan daripada sidhi gaib, di dalam suatu bingkai filosopis, Ratu Ayu ini adalah sebagai guna, sebagai daya pikat. Daya pikat yang dimaksud, sejauh mana kehidupan kita ini memiliki daya pikat kepada orang lain, dalam arti positif. Misalnya kita selaku penjual atau pedagang, ada memiliki daya pikat, sehingga orang tertarik untuk memilih produk kita. Daya pikat yang memancar keluar disebut dengan gunan awak.

“Semua sebutan itu, apabila sudah melalui proses sakralisasi. Sebutan ini tidak semata mata lepas daripada istilah kepada tapakan. Misalnya, kalau Barong itu disebut dengan Ratu Mas, Ratu Gede, Ratu Bagus. Kalau Rangda, adalah Ratu Ayu. Ratu itu adalah sebagai kekuatan penghormatan dan kesempurnaan. Ayu itu adalah kecantikan. Sedangkan Ratu Gede, Gede itu adalah kehebatan. Makanya Ratu Gede itu adalah kesempurnaan dalam kehebatan. Seperti seorang raja”, ungkap Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut.

Di dalam Bhagawadgitha, bab 10, sloka 36 disebutkan, diatam caliatam asmi, dejas-dejas vinam haham, jaya semi, pasuya semi, satam-satam haham. Yang artinya, Aku ini adalah penjudi di antara bangsa penipu. Aku adalah keindahan dari semua yang jelita. Aku ini adalah kejayaan, dan aku ini adalah daya upaya. Aku adalah kebaikan dari segala yang baik. “Maka dari itu, dengan dasar ini Ratu Gede untuk sebutan Tuhan, sebagai yang Maha Besar, manifestasinya adalah Maha Dewa. Ratu gede adalah Siwa sebagai pengendali kesempurnaan. Siwa berarti memberikan keberuntungan yang baik ati, ramah, suka memaafkan. Banyak harapan yang tenang membahagiakan”, jelas Arya.

Selanjutnya warna daripada Barong dan Rangda ini sangat menentukan dalam pemberian gelar. Barong yang berwarna merah disebut dengan Ratu Gede atau Ratu Mas. Kalau Barong berwarna putih mukanya disebut dengan Ratu Bagus. Sedangkan untuk Rangda yang berwarna putih di beri gelar Ratu Ayu dan yang bermuka merah diberi gelar adalah Ni Rarung. “Inilah sebenarnya, definisi-definisi gelar yang diperoleh, setelah melalui upacara sakralisasi. Jangan lagi menyubut Barong dan Rangda, kecuali Barong dan Rangda itu bersipat profane,dipetunjukkan untuk tamu-tamu”, tambah Arya.

Bagi pendekun atau penyembah Durgha, dengan sujud bakti dan iklas, maka penyembah ini akan tidak melihat Barong dan Rangda itu menakutkan, bengis, menyeramkan. Melaikan akan melihat dari versi lain, terlihat halus, menyejukkan, menghanyutkan. Lebih jelas dijabarkan dalam geguritan Sudhamala, bahwa orang yang iklas mengorbankan dirinya kepada Durgha, akan dapat mengetahui Durgha yang santha dan somnya. Artinya, Uma dalam wujud dewi yang lebih halus. Seperti apa yang dilakukan oleh Sahadewa, yang mengiklaskan dirinya dijadikan korban persembahan kepada Dewi Durgha. Dewi Kunti membawa Sahadewa ke kuburan sebagai persembahan, agar Dewi Durgha berkenan menganugrahkan kemenangan kepada Pandawa dalam perang Bharatayudha. Lalu sahadewa diikat di sebuah pohon Rangdu Alas. Ketika Durgha hendak menebas kepala Sahadewa dengan pedang, diam-diam, Dewa Siwa memasuki ke dalam diri Sahadewa. Dan Durgha di ruwat oleh Sahadewa, atas kehendak Siwa. “Berkat ruwatan itulah, Sahadewa tidak lagi menyaksikan Durgha dalam wujud yang menyeramkan atau menakutkan, tetapi berubah menjadi wujud Dewi Uma yang cantik dan jelita. Dimikian, ceritra dalam keguritan Sudhamala”, kata Arya.

Namun ada juga beberapa sumber sastra, yang menyebutkan bahwa Rangda itu diidentikan dengan Sanghyang Rimrim Mong, atau penguasa kejadian karena menguasai kegelapan. Namun pandangan yang demikian, yang menganggap bahwasanya Rangda itu adalah sebagai ajaran kegelapan, itu terlalu mainstream. Kegelapan, dalam hal ini sebenarnya artinya, mengatasi kegelapan, yang memiliki makna, Rangda tidak akan terlihat Rangda jika tidak di tempat yang gelap. Ini filsapatnya luar biasa, dengan kata lain, misalnya lampu akan tidak bercahaya jika tidak di tempat yang gelap. “Jadi penguasa kegelapan di sini, bukan raja kejahatan. Tetapi penguasa kegelapan dan berada di seberang kegelapan, terang dalam cahaya keagungan. Inilah sebenarnya manifestasi Ratu Ayu yang dijuluki pada Rangda”, jelas I Nyoman Arya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....