Memahami Hari Raya Kuningan Menurut Lontar Sundarigama

  • 02 Okt 2024 11:34 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar : Menurut Lontar Sundarigama yang merupakan salah satu teks kuno yang menjadi pedoman upacara keagamaan di Bali, hari raya Kuningan memiliki makna khusus terkait hubungan manusia dengan para leluhur dan Dewata. Hari raya Kuningan merupakan salah satu hari suci dalam tradisi Hindu di Bali yang dirayakan setiap enam bulan sekali ( 210 ) hari sekali menurut kalender Bali, yaitu sepuluh hari setelah hari raya Galungan.

Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Ida Ayu Made Ratih Prabadewi, M.Pd.H., mengungkapkan hal tersebut dalam program acara Obrolan Komunitas di Programa 4 RRI Denpasar, Selasa, (1/10/2024). Dijelaskannya pada hari raya Kuningan Umat Hindu di Bali akan mempersembahkan sesajen ( upakara yadnya) yang biasanya dihaturkan sebelum tengah hari, karena dipercayai bahwa leluhur dan para Dewata akan kembali kealam surgawi sebelum tengah hari.

“Upacara yadnya di hari raya Kuningan tersebut bertujuan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada leluhur dan memberikan bekal sesajen kepada beliau ketika kembali kealam surga sebelum tengah hari. Hari raya Kuningan ini adalah waktu yang sangat sakral untuk menjaga keseimbangan antara alam manusia, para leluhur dan para Dewa”, ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Dayu Praba tersebut menambahkan dalam lontar Sundarigama disebutkan, “Saniscara kliwon wara kuningan payoganira bhatara mahadewa tumuruna pepareng para dewata muang sang pitara, inanggapa bhaktin manusa, amaweha waranugraha amertha kahuripan rijanapada, asuci laksana, neher memukti, bebanten sege selangi, tebog, saha raka dane sangkep saha gegantungan tamiang kulem, endongsara, maka pralingga, aja sira ngarcana lepasing dauh ro, apan riteles ikang dauh, prewateking dewata mantuk maring sunia taya”.

Dijelaskan Dayu Praba arti dari isi lontar Sundarigama tersebut adalah pada sabtu Kliwon Kuningan pemujaan kepada Bhatara Mahadewa yang turun bersama para Dewata dan para roh leluhur untuk menerima persembahan umat manusia, dan memberikan anugerah berupa kehidupan yang baik dan makmur kepada alam dan isinya. Oleh karena itu selalu mempersembahkan banten ( upakara) berupa sege selangi, tebog, dengan isi lengkapnya, disertai gantung – gantungan tamiang kulem, dan endongan. Sebagai sthana para Dewata dan leluhur. Tidak dibenarkan mengadakan pemujaan dan persembahan lewat tengah hari ketika matahari telah condong ke barat, sebab saatnya para dewata telah meninggalkan alam semesta pergi kealam gaib”.

“Berdasarkan teks Sundarigama tersebut sebagaimana kita lihat pada saat perayaan hari raya kuningan ada pernak pernik tamyang kulem, endongan, ter, sulanggi, tebog, untuk itu mari kita maknai upakara tersebut untuk dijadikan suluh dalam kehidupan ini”, tutup Dayu Praba.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....