Saput Poleng Simbol Harmonisasi

  • 01 Okt 2024 14:34 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar: Kain Poleng, memiliki peranan penting dalam melaksanakan suatu kegiatan ritual keagamaan maupun diluar dari konteks keagamaan. Pemakaian kain poleng di Bali sangat berkaitan dengan kegiatan keagamaan, misalnya dipakai pada busana pelinggih Ratu Ngurah, Penunggun karang, kul-kul, tedung, pohon-pohon besar dan lain sebagainya. Bahkan pada tokoh-tokoh tertentu, seperti pecalang, petapakan sering menggunakan kain dengan corak poleng tersebut. Demikian juga pada seni pertunjukan, misalnya di tari kecak, pewayangan, dan lain sebagainya.

Pada arca yang ada di tempat-tempat tertentu, yang merupakan simbol pertemuan antara akasa dan pertiwi juga memakai warna poleng. Kain poleng tersebut, diimplementasikan sebagai ajaran Trihita Karana. Tri artinya tiga, Hita artinya sejahtera dan Karana tersebut merupakan sebuah penyebab. Jadi kalau kita artikan secara leksikal Trihita Karana mengandung pengertian Tiga penyebab kesejahteraan.

Hal tersebut bersumber pada keharmonisan. Keharmonisan disini yang pertama, harmonis dengan Tuhan. Yang kedua harmonis dengan sesama manusia dan yang ketiga adalah harmonis dengan lingkungan itu sendiri. Hal tersebut disampaikan oleh Ida Bagus Gede Bawa, penyuluh agama Hindu, Kementerian Agama Kota Denpasar, dalam acara Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, FM 106,4 MHz, Jumat 27 September 2024.

Ada pun unsur-unsur di dalam Ajaran Trihita Karana ini meliputi, ada Sang Hyang Jagad Karana, buwana dan manusia. Unsur-unsur Trihita Karana tersebut dalam kitab suci Begawad Gita dikatakan sebagai berikut, sahayatnya prajah sristva purawasa prajapati anena prasawisya diwam esa wustiwistah kamandu. Yang pengertiannya, pada zaman dahulu Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya, dan bersabda dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamando dari keinginanmu.

“Dalam seloka Begawad Gita tersebut , ada nampak tiga unsur yang saling beryadnya untuk mendapatkan, yaitu terdiri dari Prajapati yakni Tuhan Yang Maha Esa, kemudian ada Praja, dan ada manusia. Dengan menerapkan Trihita Karana secara mantap, kreatif dan dinamis, akan terwujudlah kehidupan harmonis, yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya, yang astiti bakti kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Cinta kepada kelestarian lingkungan, serta rukun dan damai dengan sesamanya”, jelas Bawa.

“Di dalam menjaga lingkungan, Palemahan, khususnya bagi Umat Hindu yang ada di Bali di dalam kehidupan bermasyarakat banyak sekali kita menemukan simbol-simbol. Apakah dari bentuk, karena kita harus sadari bahwa agama Hindu tersebut adalah agama symbol. Kenapa saya katakan agama symbol, karena segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan atau ketuhanan, seringkali menggunakan simbol-simbol tertentu’, ungkap penyuluh agama Hindu Kota Denpasar tersebut.

Kalau kita menelisik ajaran ketuhanan kita, karena Tuhan itu tidak dapat dilihat, hanya dapat dirasakan, maka umat Hindu menggunakan berbagai bentuk simbol. Di dalam menjalankan keyakinannya, dari bentuk biasanya simbol-simbol itu ada berupa patung, kemudian ada Arca, dan Pretima. Bentuk-bentuk ini diyakini sebagai kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa atau Ida Sanghyang Widhi Wasa. Kemudian dari warna, segala sesuatunya ditentukan oleh warna. Dari simbol warna, yang paling sering, bahkan menjadi ciri, yang menjadi ikon, ada warna kotak-kotak Atau disebut dengan poleng. Kalau kita kategorikan terdapat tiga jenis motif kain poleng yang digunakan ritual umat Hindu, sehingga ketiga motif tersebut dianggap sakral.

Pertama motif hitam putih, sebagai simbol Rwa Bhineda, memiliki makna jika di dunia terdapat dua hal yang berbeda. Tetapi jika berjalan dengan harmonis akan menciptakan sebuah keseimbangan alam. Diharapkan dengan keseimbangan alam akan tercipta kehidupan yang sejahtera. Biasanya kain poleng Rwa Bhineda ini banyak digunakan pada patung-patung, Bedogol, pada kulkul (kentongan) dan pada pohon-pohon yang dianggap keramat oleh umat Hindu. Yang kedua motif hitam putih dan abu-abu, disebut Poleng Sudamala. Warna hitam dan putih merupakan simbol dari Rwa Bhineda, ditambah warna abu-abu yang merupakan penyelarasan dari perbedaan kedua warna tersebut. Dan yang terakhir motif hitam putih dan merah, disebut Poleng Tridatu.

Ketiga warna tersebut merupakan lambang dari ajaran tiga sifat manusia yaitu Tri Guna. Warna hitam melambangkan sifat malas atau penghambat. Putih melambangkan sifat bijaksana dan merah yang berarti tegas dan keras. Jadi motif Poleng Tridatu ini digunakan sebagai seragam penjaga keamanan desa, atau disebut dengan pecalang. Dengan maksud, diharapkan para pengaman memiliki kedewasaan intelektual untuk mengendalikan situasi keamanan, serta memiliki ketegasan untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk. “Apabila dikaitkan dengan Dewa Trimurti, hitam melambangkan Dewa Wisnu, putih melambangkan Dewa Siwa, dan merah melambangkan Dewa Brahma”, kata Gede Bawa.

Kain poleng dipungsikan dalam berbagai hal, seperti untuk umbul-umbul, uuntuk menghias patung, untuk atribut pentas dalam kesenian, untuk tedung atau payung di pura, untuk atribut keagama umat Hindu, atribut keamanan atau Pecalang, menghias merajan atau sangah, juga ada yang menggunakan kain poleng pada tempat-tempat tertentu, seperti Ratu Nyoman Penunggung Karang, Ulun Pangkung dan lain sebagainya. Untuk pertanda juga bahwa tempat atau benda yang dililit kain poleng memiliki kekuatan magis, contohnya ada pohon diisi kain poleng, ada batu besar diisi kain poleng. Tujuannya untuk mengingatkan bahwa di tempat itu memiliki kekuatan magis, sehingga ketika kita lewat di tempat itu disarankan untuk lebih berhati-hati.

Kemudian kain poleng ketika dipasang pada tumbuh-tumbuhan dan pada pohon-pohon besar yang dianggap angker, seperti pohon beringin, pohon pule dan lain sebagainya, itu juga sebagai pengingat bahwa, betapa pentingnya tumbuh-tumbuhan terhadap kehidupan manusia. Manusia dan tumbuh-tumbuhan saling. Tumbuh-tumbuhan membutuhkan karbon dioksida yang dihasilkan oleh manusia dan manusia membutuhkan oksigen yang dikeluarkan oleh tumbuh-tumbuhan.

“Dengan ajaran Tri Hita Karana ini, diimplementasikan oleh Masyarakat Hindu di Bali dengan memberikan tanda kepada tumbuh-tumbuhan besar. Dengan memberikannya saput atau kain poleng tersebut, yang pertama bisa dikatakan karena angkernya dan yang kedua adalah sebagai salah satu upaya kita menjaga lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan” ungkap Ida Bagus Gede Bawa sebagai penutup acara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....