Menjaga Stabilitas Harga Bahan Pokok Selama Ramadan

  • 18 Feb 2026 14:31 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Stabilitas harga bahan pokok pada periode Ramadan semakin diposisikan sebagai isu strategis dalam pengelolaan ekonomi makro. Kenaikan konsumsi rumah tangga yang berlangsung simultan di berbagai daerah menciptakan tekanan permintaan yang bersifat temporer namun berulang setiap tahun.

Pengamat Ekonomi, I Komang Putra kepada RRI.CO.ID di Denpasar, Selasa 17 Februari 2026 menyampaikan, tanpa tata kelola pasokan yang presisi, kondisi tersebut berpotensi memicu inflasi pangan dan menurunkan daya beli masyarakat. Selama bulan Ramadhan, faktor kenaikan harga biasanya terjadi akibat tekanan harga dari sisi supplier.

“Pola permintaan selama bulan Ramadhan relatif tidak terlalu mempengaruhi faktor kenaikan harga, melainkan kenaikan terjadi dari supplier,” ujarnya pada Selasa, 17 Februari 2026.

Komang Putra menambahkan, pada fase ini, pasar cenderung sensitif terhadap gangguan sekecil apa pun, baik keterlambatan logistik, spekulasi harga, maupun informasi kelangkaan yang tidak terverifikasi. Tanpa kontrol yang ketat, kelangkaan semu dapat tercipta dan memicu kenaikan harga yang tidak rasional.

Selama periode ini beberapa stakeholder membuat berbagai upaya untuk menjaga stabilitas harga. “Pemerintah sering kali berupaya menjaga stabilitas harga melalui intervensi seperti operasi pasar, maupun pemantauan. Dalam jangka pendek memang membuahkan hasil, namun untuk jangka panjang belum dapat dikatakan berhasil,” ucapnya.

Dengan kombinasi perencanaan berbasis data, efisiensi logistik, penguatan produksi domestik, serta pengawasan distribusi, stabilitas harga bahan pokok selama Ramadan dapat dikelola secara sistematis. Ketahanan pangan bukan hanya persoalan ketersediaan, melainkan juga manajemen risiko ekonomi yang terukur demi menjaga kesejahteraan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....