Puluhan Pemanah Bersaing di Para-meter Archery Indonesia Open 2026
- 10 Agt 2026 13:46 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Surakarta - Atlet para panahan Indonesia, Ken Swagumilang, menunjukkan kelasnya saat terjun dalam turnamen panahan bertajuk Para-meter Archery Indonesia Open 2026, Sabtu-Minggu 7-8 Agustus 2026. Turnamen yang diinisiasi oleh National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia) ini sengaja membuka pintu untuk atlet-atlet non disabilitas.
Total dari 65 peserta yang bersaing di Lapangan FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), ada 40 peserta yang berstatus non disabilitas. Meski begitu, atlet-atlet disabilitas, terutama yang diproyeksikan menuju Asian Para Games 2026 bisa bersaing hingga fase akhir.
Bahkan, Ken Swagumilang sukses menguasai nomor compound. Ken Swagumilang meraih medali emas nomor individu setelah mengalahkan wakil Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dimas Maulana, dengan skor 142-138.
Sebelum itu, pada babak semifinal, Ken berhasil mengalahkan juara Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2025, Muhammad Faris Ardiansyah, dengan skor ketat 147-145. Dominasi berlanjut di nomor mixed team saat Ken berpasangan dengan Teodora Audi Ayudia Ferelly. Lagi-lagi, Ken bertemu dengan Dimas Maulana yang berpasangan dengan Qanita Syauqina.
Ken/Audi tampil konsisten sepanjang partai puncak dengan meraih skor 152 poin. Sementara Dimas/Qanita hanya mengumpulkan 147 poin.
Selain dari Ken dan Audi, tim para panahan Indonesia juga mendapatkan medali perak dari nomor mixed team recurve lewat pasangan Kholidin dan Noviera Ross. Kholidin/Noviera harus mengakui keunggulan wakil PPLOP Jawa Tengah, Daffa Indika Haidar/Vinethea Natyasha pada partai perebutan medali emas dengan skor 1-5.
Raihan dua medali emas dan satu medali perak membuat tim para panahan Indonesia menjadi juara umum dalam ajang Para-meter Archery Indonesia Open 2026. Mereka mengungguli PPLOP Jawa Tengah yang mengumpulkan dua emas dan satu perunggu serta tim Kota Surakarta yang meraih satu emas, satu perak dan satu perunggu.
Persaingan ketat yang tersaji sepanjang turnamen ini membuat tim pelatih para panahan Indonesia gembira. Sejak awal, turnamen ini sengaja dibuat untuk menguji mentalitas bertanding Kholidin dkk.
Sebelum mengikuti Asian Para Games 2026, tim para panahan Indonesia akan mengikuti Hyundai World Archery Para Series 2026 di Ahmedabad, India, 5-9 September 2026 mendatang. Ajang ini sangat penting untuk memburu poin guna membuka peluang lolos ke Paralimpiade Los Angeles 2028.
"Biasanya mereka bertanding dengan sesama atlet disabilitas, kali ini didatangkan atlet yang non disabilitas. Artinya pertarungan mental di ajang ini sangat membantu atlet-atlet para panahan Indonesia menuju kejuaraan yang lebih besar," kata pelatih para panahan Indonesia, Idya Putra Harjianto, Minggu 9 Agustus 2026.
Idya menjelaskan, ada beberapa penyesuaian peraturan lomba yang sengaja dibuat untuk melatih konsentrasi para atlet Indonesia. Salah satunya adalah penggunaan satu bantalan untuk tiga peserta, dari biasanya dua peserta.
Tak ketinggalan adalah penggunaan panggung alternate shoot mulai babak kedua. Alternate shoot menjadi salah satu bahan evaluasi tim pelatih saat mengikuti kejuaraan dunia di Novemesto, Republik Ceko, 29 Juni-4 Juli 2026 lalu.
Kala itu, para pemanah Indonesia terlihat lebih nervous karena tidak terbiasa bertanding di panggung alternate shoot. "Kita memberlakukan sistem alternate shoot yang jarang dijumpai di Indonesia. Dari sinilah kita akan membiasakan diri menuju panggung alternate yang akan digunakan saat kejuaraan dunia dan Asian Para Games," ungkap Idya.
Sementara itu, ketua penyelenggara Para-meter Archery Indonesia Open 2026, Rameez Ali, menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki dua tujuan penting. Selain menguji kesiapan sebelum bertanding di Asian Para Games 2026, NPC Indonesia juga ingin mempertemukan para pemanah disabilitas dengan non disabilitas.
"Melalui ajang ini kami ingin menambah solidaritas antara pemanah disabilitas dan non disabilitas, yang mana selama ini mungkin belum pernah bertanding bersama, terutama di kejuaraan nasional. Maka dari itu, NPC Indonesia berinisiatif mengadakan kejuaraan ini untuk upaya solidaritas," ucap Rameez Ali.
Tak ketinggalan adalah menumbuhkan minat untuk berprestasi di cabang olahraga para panahan. Di kejuaraan ini, ada sederet atlet disabilitas yang datang dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Barat hingga Sumatera Barat.
"Harapan kami, event ini bisa diselenggarakan setiap tahun," tutur Rameez Ali.
Harapan yang sama juga diungkapkan Ken Swagumilang. Atlet asal Jawa Timur ini merasakan sendiri atmosfer yang berbeda ketika bersaing dengan atlet-atlet non disabilitas. "Kalau bisa tahun depan dibuat lebih besar lagi, pesertanya ditambah lagi. Pasti akan lebih meriah. Kita bisa latihan buat merasakan pressure lagi," ungkap Ken.
Sementara itu, atlet asal Kota Solo, Asyifa Putri El Zahra, merasa senang bisa berpartisipasi dalam ajang ini. Ia merasakan persaingan yang sangat sengit sejak babak kualifikasi. "Senang bisa melihat pemanah dari NPC Indonesia, bagaimana caranya memanah, melihat cara-caranya tersendiri. Tapi saya juga merasakan tegang karena tadi sempat shoot off," ucap Asyifa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....