Menko Luhut: Ekonomi Biru Penting bagi Indonesia
- 14 Nov 2022 11:53 WIB
- Denpasar
KBRN, Nusa Dua : Indonesia tergolong agresif dalam merealisasikan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030.
Agresifitas Indonesia salah satunya diwujudkan dengan penandatanganan Kemitraan Aksi Agenda Biru di Bali, Senin (14/11/2022).
Dipayungi kemitraan komprehensif ini, delapan badan PBB dan beberapa mitra pembangunan internasional lainnya akan mendukung Pemerintah Indonesia dalam pembangunan kelautan yang berkelanjutan.
Kemitraan ini telah resmi ditandatangani di sela-sela KTT Pemimpin G20 ke-17.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia, Luhut B. Pandjaitan menyatakan, membangun ekonomi biru yang berkelanjutan sangat penting bagi Indonesia.
Alasannya dapat membantu meningkatkan pendapatan dari kegiatan kelautan dan perikanan, serta melestarikan keanekaragaman hayati laut dan menjaga kondisi kesehatan laut melalui pemulihan dan perlindungan ekosistem laut.
"Peluncuran kemitraan ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk melakukan tindakan-tindakan nyata dan berkolaborasi untuk membawa perubahan sosial, ekonomi dan lingkungan di sektor maritim," katanya.
“Kemitraan ini akan membantu kita pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat, dengan fokus pada kepentingan generasi masa depan," lanjutnya.
Sementara Perwakilan PBB di Indonesia, Valerie Julliand menyoroti komplementaritas antara berbagai mitra dalam mencapai tujuan bersama dari pembangunan ekonomi laut berkelanjutan.
"Badan-badan PBB dan mitra pembangunan yang berpartisipasi dalam kemitraan ini saling berbagi pengalaman, keahlian dan pendekatan inovatif, serta menjalankan berbagai proyek yang mendukung Pemerintah Indonesia dalam mempercepat Agenda Biru,” ujarnya.
Dunia secara umum menyadari betapa buruknya kondisi laut.
Hal itu dipicu eksploitasi sumberdaya laut yang berlebihan dan meningkatnya pembuangan limbah ke laut lepas.
Konferensi Kelautan PBB 2022 di Lisbon awal tahun ini menyoroti kondisi buruk laut.
Setiap negara diharapkan untuk berkomitmen terhadap perlindungan dan penggunaan sumber daya laut yang berkelanjutan.
Fokus ini menjadi pusat perhatian pada Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB di Montreal pada bulan Desember nanti.
Utusan Khusus Sekretaris-Jenderal PBB, Peter Thomson mengemukakan, Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memberikan contoh dengan pendekatan jangka panjang yang seimbang untuk pengembangan laut.
"Dunia sedang menyaksikan, dan bersama kita bisa membuat perubahan," tegasnya.
Kemitraan ini akan fokus pada sektor kelautan dan maritim.
Kemitraan ini juga memastikan lingkungan yang sehat dan berkontribusi pada kemakmuran di bawah empat pilar: kesehatan biru, makanan biru, inovasi biru dan keuangan biru.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....