Menkomdigi: Pemanfaatan Teknologi Digital Berdampak terhadap Sektor Pertanian
- 07 Okt 2026 14:29 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemanfaatan teknologi digital harus memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat, termasuk di sektor pertanian dan perikanan. Hal itu dikatakan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid di Jakarta Lusata dikutip dari komdigi.go.id.
Menurutnya, Internet of Things (IoT) dan kecerdasan artifisial (AI), menurut Meutya, perlu diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan, termasuk mendukung ketahanan pangan. “IoT dan kecerdasan artifisial adalah teknologi baru yang harus kita manfaatkan agar memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat,” ujar Menkomdigi Meutya.
Menkomdigi Meutya mengatakan, Pemanfaatan teknologi tersebut antara lain terlihat di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Sensor tanah yang digunakan petani membantu mengurangi penggunaan pupuk dari sekitar 1.600 kilogram menjadi 750 kilogram per hektare atau turun sekitar 53 persen.
Di Desa Pengkok, Kabupaten Sragen. Menkomdigi Meutya mengatakan penerapan teknologi digital perlu diperluas ke sentra-sentra produksi pangan di berbagai daerah. Menurutnya, digitalisasi tidak seharusnya hanya berkembang di perkotaan, tetapi juga digunakan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat di desa.
“Ketahanan pangan menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Kami ingin memastikan digitalisasi diterapkan langsung dalam use casedi lapangan. Teknologi digital jangan hanya dinikmati di perkotaan, tetapi harus masuk ke desa-desa untuk mendukung program swasembada pangan Presiden,” kata Meutya.
Kementerian Komunikasi dan Digital terus mengembangkan pemanfaatan IoT untuk kebutuhan produktif di berbagai daerah. Penerapannya diarahkan pada persoalan konkret, mulai dari mengukur kondisi tanah dan mengatur penggunaan input pertanian hingga menjaga kualitas air dan membantu pembudidaya mengelola produksi ikan.
Petani Sumarno menggunakan perangkat sensor pertanian Jinawi untuk mengetahui kondisi tanah dan menentukan kebutuhan pupuk. Informasi dari sensor menjadi salah satu dasar bagi petani dalam menentukan jumlah pupuk yang diperlukan.
“Alat digital Jinawi sangat membantu, terutama dalam menentukan pemupukan. Sebelumnya satu hektare bisa menghabiskan sekitar 1.600 kilogram pupuk. Setelah menggunakan alat ini, kondisi tanah diketahui masih subur sehingga kebutuhan pupuk hanya sekitar 750 kilogram,” kata Sumarno.
Teknologi serupa juga dimanfaatkan di sektor perikanan. Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Cipancur Cimahi Farm Feed di Kabupaten Sukabumi menggunakan aerator berbasis IoT untuk membantu menjaga kadar oksigen dalam air kolam.
Pembudidaya ikan nila Abdullah Agus Salim mengatakan pemanfaatan teknologi yang disertai pembelajaran dan pendampingan membantu kelompoknya meningkatkan produksi. Saat ini, 20 anggota Pokdakan menghasilkan sekitar 40 ton ikan nila dalam satu siklus panen.
“Pertumbuhan hasil ikan nila terus meningkat berkat pembelajaran dan pendampingan teknologi ini,” ujar Abdullah.
Kelompok tersebut juga memasok sekitar 400 kilogram ikan nila per minggu untuk kebutuhan operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sukabumi. Pemanfaatan teknologi tidak hanya berdampak pada proses budi daya, tetapi juga mendukung ketersediaan pasokan pangan di tingkat daerah.
Pengalaman petani di Sragen dan pembudidaya ikan di Sukabumi menunjukkan pemanfaatan teknologi digital dapat diukur dari perubahan yang terjadi di lapangan. Pengurangan penggunaan pupuk dan peningkatan produksi ikan menjadi contoh penerapan teknologi yang mendukung produktivitas sekaligus ketahanan pangan dari tingkat desa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....