Indonesia - AS Perkuat Komitmen Transformasi Ekonomi Berkelanjutan

  • 07 Okt 2026 07:30 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah terus berkomitmen memperkuat daya tahan perekonomian nasional dan menciptakan iklim investasi yang kondusif di tengah dinamika ketidakpastian global. Ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap kokoh menjadi modal utama dalam mempererat kemitraan strategis dengan negara mitra, khususnya Amerika Serikat, guna mendorong investasi bernilai tambah tinggi dan penciptaan lapangan kerja.

Hal itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan keynote speech, dalam 14th Annual US-Indonesia Investment Summit “Building Confidence: Strengthening Indonesia’s Investment Climate”, Jakarta, Selasa 6 Oktober 2026 dikutip dari ekon.go.id. “Saya pikir Indonesia melampaui rata-rata global sebesar 5,45% secara triwulanan, inflasi sebesar 3,28%, investasi meningkat 7% dibandingkan tahun lalu, dan indeks keyakinan konsumen kita masih di angka 108,5%. Kemudian kita memiliki pertumbuhan yang inklusif. Angka Rasio Gini kita adalah 0,36. Tingkat kemiskinan kita turun menjadi 8,7%. Lalu pengangguran terbuka sekitar 4,65%. Jadi sentimen investor juga cukup yakin dengan ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Menko Airlangga mengungkapkan, dalam hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat, perdagangan Indonesia–AS terus menunjukkan tren positif. Nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat meningkat dari USD25,83 miliar pada 2021 menjadi USD31,01 miliar pada 2025, sementara pada Semester I-2026 ekspor telah mencapai USD15,85 miliar.

Pada periode yang sama, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar USD8,56 miliar. Amerika Serikat juga konsisten menjadi salah satu dari lima sumber utama Foreign Direct Investment (FDI) Indonesia, dengan realisasi investasi sebesar USD1,72 miliar pada Semester I-2026. Menurut Menko Airlangga, untuk memperkuat daya tarik investasi, arah kebijakan ekonomi 2027 difokuskan pada tema “Higher Growth – Faster Prosperity” dengan target pertumbuhan ekonomi menuju 8%.

Pemerintah akan memperkuat sektor bernilai tambah tinggi, revitalisasi sektor ekonomi yang resilien, peningkatan kapasitas ekspor dan investasi, serta dukungan digitalisasi, semikonduktor, dan Artificial Intelligence (AI). Dalam kerangka tersebut, sektor swasta tetap menjadi penggerak utama investasi dan penciptaan lapangan kerja, sementara Danantara berperan melalui investasi strategis berorientasi komersial.

Menko Airlangga menekankan, transformasi digital juga menjadi salah satu peluang investasi yang terus dikembangkan Indonesia. Sebagai ekonomi digital terbesar di ASEAN yang diproyeksikan mencapai USD180 hingga USD340 miliar pada tahun 2030, Indonesia memacu pengembangan infrastruktur teknologi seperti data centerberbasis AI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa dan ekosistem semikonduktor di koridor Batam-Bintan.

Selain itu, percepatan transformasi industri turut difokuskan pada pengembangan 25 KEK yang hingga Juni 2026 telah mencatatkan akumulasi realisasi investasi sebesar Rp368 triliun (USD20 miliar) serta menyerap lebih dari 283 ribu tenaga kerja. Sejalan dengan itu, Indonesia terus memperluas akses pasar melalui berbagai kemitraan ekonomi internasional, termasuk BRICS+, G20, RCEP, ASEAN, OECD, dan CPTPP.

Indonesia juga terus mengembangkan berbagai perjanjian perdagangan, termasuk Indonesia–EU CEPA, Canada CEPA, serta persiapan CEPA dengan Inggris. Dalam hubungan bilateral dengan Amerika Serikat, implementasi Indonesia-US Agreement on Reciprocal Trade (ART) menjadi fokus utama Pemerintah untuk memperluas akses pasar, mengurangi hambatan tarif dan nontarif, serta memperkuat rantai pasok kedua negara.

“Kami sangat berharap dapat terus bekerja sama dengan komunitas bisnis Amerika Serikat untuk mengubah berbagai peluang strategis ini menjadi investasi yang konkret dan kemitraan yang lebih kuat guna mendorong pertumbuhan ekonomi bersama,” tutur Menko Airlangga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....