Tiga Indikator Menguat, Perekonomian Indonesia Tetap Terjaga

  • 05 Okt 2026 13:57 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Perekonomian Indonesia menunjukkan perkembangan positif memasuki Triwulan IV-2026. Di tengah ketidakpastian global, stabilitas harga tetap terjaga, kinerja perdagangan eksternal menguat, dan aktivitas manufaktur kembali berekspansi. Hal tersebut tercermin dari inflasi September 2026, neraca perdagangan Agustus 2026, dan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur September 2026.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto di Jakarta dikutip dari ekon.go.id menyampaikan inflasi September 2026 tercatat 3,28% (yoy), masih dalam sasaran nasional 2,5±1%. Inflasi inti melandai menjadi 2,84% (yoy), sedangkan inflasi Administered Prices (AP) turun menjadi 3,25% (yoy), antara lain dipengaruhi normalisasi mobilitas pascalibur sekolah dan dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang relatif terbatas.

“Komponen Volatile Food masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03% (yoy), dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam. Pemerintah terus memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga, khususnya menjelang akhir tahun,” ujar Juru Bicara Haryo.

Juru Bicara Haryo mengatakan, untuk menjaga daya beli dan ketahanan pangan, Pemerintah memperkuat penyaluran PKH Tahap III, Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan pada Oktober–Desember 2026, serta percepatan SPHP beras medium melalui Perum Bulog. Upaya tersebut dilengkapi GPM, optimalisasi CBP dan KAD, serta penguatan produksi melalui pengelolaan air dan jaringan irigasi, pengaturan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, pemetaan wilayah rawan, dan Early Warning System.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif USD7,25 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026. Kinerja ekspor Januari–Agustus 2026 antara lain ditopang besi dan baja sebesar USD19,18 miliar atau tumbuh 4,88%, CPO dan turunannya USD17,75 miliar atau tumbuh 6,57%, serta batu bara USD16,58 miliar atau tumbuh 4,31%.

Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62%, mencerminkan kontribusi hilirisasi terhadap kinerja ekspor. Juru Bicara Haryo mengungkapkan, dari sisi impor, bahan baku atau penolong dan barang modal mendominasi dengan masing-masing USD133,38 miliar dan USD36,74 miliar atau secara total mencapai 91,3% dari impor.

Peningkatan impor mesin atau peralatan mekanis 15,26% dan mesin/perlengkapan elektrik 22,94% menunjukkan meningkatnya kebutuhan input produksi dan barang modal sejalan dengan aktivitas produksi dan investasi domestik. Selain itu, penguatan aktivitas manufaktur tercermin dari PMI Manufaktur September 2026 yang meningkat menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus dan kembali berada di zona ekspansi.

Perbaikan tersebut didukung peningkatan pesanan baru dan produksi, pertumbuhan pesanan ekspor, masuknya proyek baru, serta membaiknya daya beli. Sementara, pada September 2026, pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari 2026, sementara pesanan ekspor mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.

Di samping itu, penyerapan tenaga kerja, pembelian, dan persediaan input kembali meningkat. Di sisi biaya, inflasi harga input dan output melambat ke level terendah dalam enam bulan, sementara keyakinan pengusaha terhadap prospek produksi 12 bulan ke depan tetap tinggi.

“Ke depan, kebijakan Pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” tutur Juru Bicara Haryo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....