KONASPI XII: Seribuan Pakar dan Akademisi Godok Deklarasi Bali

  • 03 Okt 2026 08:45 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Nusa Dua - Sebanyak 1.694 akademisi dari 12 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Negeri hadir dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII. Agenda dua tahunan yang mengetengahkan tema "Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045" tersebut berlangsung tiga hari (2 - 4 Oktober 2026) di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC).

Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) bertindak sebagai tuan rumah dalam event yang mengusung tiga isu utama. Ketiga isu itu meliputi penguatan karakter kebangsaan, peningkatan mutu guru, dan mewujudkan KONASPI sebagai muara munculnya inovasi dari para pakar serta pengambil kebijakan.

Rektor Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd., berharap, kehadiran pakar, akademisi dan praktisi dapat melahirkan ide, gagasan serta pemikiran inovatif. Semua itu untuk mewujudkan pengelolaan pendidikan yang memperkuat dan mempercepat terwujudnya Indonesia Emas 2045.

"Kita berharap melalui KONASPI akan lahir Deklarasi Bali, yang nanti akan memuat beberapa poin penting untuk bisa kita sampaikan kepada pemerintah melalui kementerian, kepada DPR RI," katanya kepada wartawan usai pembukaan KONASPI XII di BNDCC, Jumat 02 Oktober 2026.

"Tujuannya agar betul-betul pendidikan, khususnya pendidikan tinggi bisa terkelola dengan baik, sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi kita," lanjutnya.

Lasmawan mengakui, pendidikan di Indonesia menghadapi tantangan tidak ringan. Salah satunya mengembalikan marwah pendidikan yang hadir dalam upaya membangun sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan kompeten.

"Sehingga perbaikan mutu guru, kemudian perbaikan ruang-ruang kelas dari sisi dimensi kualitas pembelajaran adalah sebuah keharusan," ujar Lasmawan dalam kegiatan yang dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed.

"Karena akan lahir sebuah hasil pendidikan yang baik, manakala dimulai dari ruang-ruang kelas kecil, ruang-ruang kelas sempit, terjadinya sebuah dialog akademik, dan terjadinya sebuah pengakuan kepada peserta didik untuk menemukan dan mengembangkan potensi secara optimal," imbuhnya.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., menekankan, posisi penting dosen dan LPTK dalam membangun Indonesia Emas 2045. Menurutnya, Indonesia bersama 107 negara di dunia saat ini sedang bekontestasi untuk naik kelas.

"Kesempatan itu tidak setiap saat terbuka. Itu terbuka ketika jumlah penduduk produktif kita lebih banyak dari penduduk berusia tidak produktif," tegasnya.

"Itu hanya terbuka sampai 2040. Kalau kita gagal, kita menunggu lagi," imbuhnya.

Brian mengakui, asa ini menjadi pekerjaan rumah seluruh pihak. Oleh karenanya, seluruh LPTK di Indonesia diharap mampu meningkatkan inovasi untuk melahirkan SDM guru berkualitas dan kompeten.

"Karena guru-guru itu nantinya diharapkan melahirkan orang-orang hebat," ujar Menteri Brian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....