Pemerintah Siapkan Strategi Perkuat Investasi Capai Pertumbuhan Ekonomi 2027

  • 30 Sep 2026 07:45 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian yang tinggi, terutama melalui tiga kanal risiko utama, yakni energi dan logistik, perdagangan dan investasi, serta pasar keuangan. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah lembaga internasional juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global dapat mengalami keterlambatan seiring dengan tantangan yang belum kunjung usai.

Kondisi tersebut menunjukkan penguatan fundamental domestik dan pengelolaan risiko tetap menjadi kunci dalam menjaga ketahanan perekonomian nasional. Hal itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara HSBC Summit 2026: Mobilising Growth In a New Global Order, Selasa 29 September 2026 dikutip dari ekon.go.id.

Menurut Menko Airlangga, di tengah dinamika global tersebut, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang solid. Pertumbuhan ekonomi pada semester I-2026 mencapai 5,45% (yoy), yang termasuk salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20, sementara inflasi pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19%.

Tingkat kemiskinan berada pada 8,07%, rasio Gini sebesar 0,368, dan tingkat pengangguran sebesar 4,65%. Dari sisi investasi, sebanyak 50,2% realisasi investasi pada semester I-2026 telah berada di luar Jawa, menunjukkan semakin luasnya penyebaran aktivitas ekonomi nasional.

Di tengah berbagai tantangan eksternal, Indonesia juga mampu mempertahankan peringkat kredit BBB dengan outlook stabil dari S&P. “Untuk tahun 2027, kami menargetkan pertumbuhan sebesar 6,0%, inflasi 2,5%. Tiga kondisi harus terpenuhi yakni pertumbuhan investasi yang melampaui pertumbuhan PDB, produktivitas per pekerja yang lebih tinggi, dan ekspor bernilai tambah lebih tinggi dengan dukungan logistik yang efisien,” jelasnya.

Menko Airlangga mengatakan, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029, Pemerintah mengoptimalkan bauran kebijakan dengan kebijakan fiskal sebagai katalis, kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pembiayaan perbankan, serta peran Danantara bersama sektor swasta dalam mempercepat investasi. Penguatan mesin pertumbuhan diarahkan pada sektor kendaraan listrik, digitalisasi, semikonduktor, Artificial Intelligent (AI), pertanian, dan energi. Untuk menopang target tersebut, Pemerintah telah menyiapkan empat strategi utama melalui deregulasi dan debottlenecking berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2026, penguatan investasi dan pembiayaan, peningkatan produktivitas dan keterampilan tenaga kerja melalui program magang bagi 150.000 peserta dan 220.000 lulusan vokasi, serta perluasan akses pasar dan diplomasi ekonomi dengan 25 perjanjian perdagangan yang telah diimplementasikan dan 13 perjanjian lainnya dalam tahap negosiasi.

Menko Airlangga menjelaskan ketahanan energi dan transformasi digital menjadi dua fondasi penting dalam memperkuat perekonomian nasional. Di sisi digital, QRIS telah digunakan oleh 61 juta pengguna dan 44 juta merchant, sementara nilai ekonomi digital Indonesia mendekati USD100 miliar.

Pengembangan ekosistem digital juga diarahkan untuk membangun rantai nilai yang terintegrasi, mulai dari data center, AI, semikonduktor, hingga pengembangan talenta digital. Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta tenaga digital hingga 2030 atau sekitar 600 ribu tenaga profesional setiap tahunnya, sementara kawasan Nongsa ditargetkan mampu menciptakan lebih dari 8.000 lapangan kerja di bidang teknologi.

Selain itu, Pemerintah terus memperkuat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai pusat investasi dan pertumbuhan ekonomi baru. Hingga saat ini, terdapat 25 KEK dengan luas hampir 24.000 hektare yang mencakup sektor industri, pariwisata, kesehatan, pendidikan, teknologi, digital, dan jasa.

Pengembangan KEK juga diarahkan untuk memperkuat talenta digital, termasuk melalui KEK pendidikan di Malang yang telah menjadi lokasi operasional King’s College dan akan segera membuka India Institute of Management Bangalore. Menko Airlangga menambahkan, Pemerintah juga terus memperkuat industri padat karya dan membuka akses pasar global.

Industri tekstil dan alas kaki berkontribusi sekitar 4 juta lapangan kerja dengan nilai ekspor sekitar USD12 miliar. Dari sisi perdagangan internasional, Indonesia terus memperkuat posisi melalui G20 dan proses aksesi OECD yang telah mencapai hampir 80%, serta mengupayakan keanggotaan CPTPP.

Langkah tersebut dilengkapi dengan implementasi berbagai kerja sama perdagangan untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk nasional. “Angka semata tidak menciptakan kemakmuran, yang terpenting adalah mengubah investasi, teknologi, dan reformasi menjadi lapangan kerja, produktivitas, dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat kita,” tutur Menko Airlangga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....