Pemerintah Dorong Penguatan Industri Manufaktur untuk Transformasi Ekonomi

  • 20 Sep 2026 12:00 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jepang - Pemerintah terus mendorong penguatan industri manufaktur sebagai salah satu pilar transformasi ekonomi nasional melalui peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan rantai pasok dan orientasi ekspor. Industri otomotif memiliki peran strategis karena memiliki rantai nilai yang panjang dan keterkaitan yang luas dengan industri komponen, logistik, jasa, serta sektor pendukung lainnya.

Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Nagoya Jepang, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso melakukan working visit ke Toyota Commemorative Museum of Industry and Technology (TCMIT), Jumat 18 September 2026. Melalui kunjungan ini, menjadi kesempatan yang baik untuk mempelajari perjalanan Toyota dalam membangun kapabilitas dan kapasitas industri melalui inovasi, pengembangan teknologi, dan penguatan budaya manufaktur.

TCMIT merupakan fasilitas yang didirikan Toyota Group di lokasi yang menjadi cikal bakal perkembangan Toyota dan menampilkan evolusi teknologi dari industri tekstil hingga industri otomotif. Museum tersebut juga menekankan pentingnya research, creativity, dan manufacturing dalam pengembangan industri.

Menurut Sesmenko Susiwijono, Perjalanan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana pengembangan teknologi dan inovasi dapat menjadi fondasi bagi transformasi industri. Pengalaman Toyota dalam mengembangkan teknologi manufaktur dari industri tekstil hingga otomotif juga menunjukkan pentingnya kemampuan industri untuk terus beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan pasar.

Sesmenko Susiwijono menyampaikan pengalaman panjang Toyota dalam mengembangkan industri otomotif memiliki relevansi yang kuat dengan upaya Indonesia untuk terus meningkatkan daya saing industri manufaktur dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. “Toyota merupakan salah satu contoh terbaik bagaimana inovasi, penguasaan teknologi, pengembangan SDM, dan penguatan rantai pasok dapat membangun industri yang berdaya saing global. Pengalaman tersebut relevan bagi Indonesia dalam terus memperkuat industri manufaktur dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Sesmenko Susiwijono.

Sesmenko Susiwijono mengatakan, hubungan Toyota dengan Indonesia telah berkembang selama lebih dari lima dekade dan menjadi bagian penting dari perjalanan industri otomotif nasional. Toyota Indonesia telah memproduksi 10 Juta unit kendaraan, dengan lebih dari 3 Juta unit di-ekspor ke lebih dari 100 negara tujuan ekspor.

Investasi Toyota Group di Indonesia juga telah mencapai sekitar Rp100 Triliun, dengan ekosistem yang melibatkan lebih dari 360.000 tenaga kerja, serta pencapaian tingkat kandungan lokal (local content) lebih dari 80 persen. Sesmenko Susiwijono menyebut, Kinerja tersebut menunjukkan Indonesia tidak hanya berperan sebagai pasar otomotif, tetapi juga telah berkembang pesat menjadi salah satu basis produksi dan ekspor Toyota ke manca negara.

Ekosistem Toyota juga didukung oleh lebih dari 240 Pemasok Tier-1 dan 520 Pemasok Tier-2 dan Tier-3, yang turut memperkuat keterkaitan industri dan kemampuan manufaktur nasional. Pemerintah melihat pengalaman tersebut sebagai salah satu contoh penting pengembangan industrial ecosystem yang mengintegrasikan investasi, industri komponen, SDM, teknologi, dan ekspor.

Ke depan, penguatan ekosistem tersebut menjadi semakin penting dalam menghadapi transformasi industri menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan. Sesmenko Susiwijono mengatakan, transformasi industri otomotif juga terus berlangsung, seiring dengan perkembangan kendaraan elektrifikasi.

Toyota Indonesia terus mengembangkan kemampuan produksi kendaraan elektrifikasi, sekaligus memperkuat rantai pasok domestik. Pada April 2026, TMMIN mengumumkan kemitraan strategis dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) untuk mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia dengan investasi sebesar Rp1,3 Triliun.

Produksi tersebut mencakup pengembangan sel dan modul baterai, dengan Indonesia diproyeksikan menjadi basis ekspor baterai Toyota ke pasar global, mulai semester kedua 2026. Menurut Sesmenko Susiwijono, pengembangan ekosistem kendaraan elektrifikasi membuka peluang lebih luas bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat industri komponen dalam negeri, serta mengembangkan kemampuan sumber daya manusia dalam teknologi baru.

“Transformasi menuju kendaraan elektrifikasi membuka peluang untuk memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir, termasuk pengembangan baterai, komponen, daur ulang, dan sumber daya manusia. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dari rantai nilai kendaraan elektrifikasi global,” tutur Sesmenko Susiwijono.

Pemerintah akan terus mendorong kolaborasi dengan pelaku industri guna memperkuat daya saing manufaktur nasional, memperluas pasar ekspor, serta meningkatkan kemampuan industri dalam menghadapi perubahan teknologi. Kunjungan ke TCMIT ini diharapkan dapat memperkuat dialog antara Pemerintah Indonesia dan Toyota mengenai pengembangan industri manufaktur, inovasi teknologi, penguatan rantai pasok, elektrifikasi kendaraan, pengembangan SDM, dan perluasan ekspor, sekaligus memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia–Jepang yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....