Tokoh Dunia Bahas Inisiatif Kercedasan Buatan di Bali

  • 06 Sep 2026 06:48 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, KEK Kura-Kura Bali - Perwakilan dari forum-forum terkemuka dunia di bidang pemuda, pendidikan, teknologi, politik, agama dan masyarakat sipil berkumpul di Bali dalam perhelatan World Encounter Summit 2026. Pertemuan bersejarah ini didedikasikan untuk menjawab salah satu pertanyaan paling krusial di era saat ini.

Salah satunya memastikan Kecerdasan Buatan (AI) mampu memperkuat martabat manusia, persaudaraan antarbangsa, dan perdamaian dunia. Kemanusiaan saat ini berada di salah satu titik balik paling menentukan dalam sejarah.

Kecerdasan buatan mengubah dunia dengan potensi luar biasa untuk memajukan pembangunan berkelanjutan, membuka jalan baru bagi kemakmuran yang inklusif, dan mengatasi tantangan global yang paling mendesak. Namun, manfaat AI belum dirasakan secara merata. Kesenjangan yang mendalam masih terjadi, baik di dalam maupun antarnegara, terkait akses data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, kapasitas tata kelola, serta kemampuan untuk menentukan bagaimana AI dirancang dan diterapkan.

Oleh karena itu, menjembatani kesenjangan AI bukan sekadar imperatif teknologi, melainkan juga imperatif moral, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Sebagai acara pembuka resmi rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 sekaligus awal dari inisiatif AI World Congress Bali.

Diprakarsai oleh Tri Hita Karana Forum bekerja sama dengan Scholas Chairs Congress XI oleh Scholas Occurentes, dialog hibrida ini menghadirkan para pimpinan senior dari pemerintah, organisasi internasional, perusahaan teknologi skala global (Big Tech), sektor swasta, akademisi, masyarakat sipil, hingga komunitas lokal. Berlandaskan pada keselarasan antara manusia, alam, dan spiritualitas, dialog ini membentuk kesadaran global bersama untuk memastikan AI digunakan demi kebaikan bersama.

Diselenggarakan di United In Diversity (UID) Bali Campus dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali pada 4-6 September 2026, XI International Scholas Chairs Congress 2026 beroperasi sebagai sebuah “Forum of Forums”, yakni sebuah ruang unik tempat jaringan global bertemu untuk berdialog secara kritis mengenai dampak AI terhadap pendidikan, masa depan dunia kerja, koeksistensi sosial, kesehatan mental, demokrasi, serta pencarian makna di kalangan generasi baru. Forum ini menyatukan para pemimpin muda dari lima benua bersama jajaran pemerintah, tokoh lintas agama, inovator teknologi, serta akademisi dari 140 perguruan tinggi dan perguruan swasta yang tersebar di 70 negara.

Terinspirasi oleh ajaran sosial mendasar dan diperkaya oleh warisan pemikiran Paus Fransiskus, perhelatan ini mempertemukan kekhawatiran serta harapan generasi muda secara langsung dengan pembuat kebijakan dan pembuat keputusan strategis dunia. Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid mengatakan, Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam dan Tuhan.

“Ini sebuah prinsip yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mencakup ekonomi yang cerdas. Melalui perpaduan AI bertenaga energi bersih dan pendidikan STEM, kita membangun kapasitas nasional agar Indonesia berdiri sendiri sebagai pencipta global, bukan sekadar konsumen,” kata Menkomdigi.

Menkomdigi menyatakan, Indonesia tidak memulai dari nol mengingat pesatnya adopsi AI di kalangan generasi muda. Namun tingkat penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional.

Menurutnya, tanpa penyelarasan strategis di seluruh bidang kebijakan, riset, talenta, dan infrastruktur, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar konsumen bagi teknologi luar. Pihaknya disebut menyambut baik hadirnya ‘Garuda Spark Innovation Hub’ di UID Bali Campus sebagai Regional Hub dan Global Gateway Indonesia yang menghubungkan para pemuka industri, investor, dan inovator global.

“Berlandaskan visi digital nasional kita, Terhubung, Tumbuh, Terjaga, inisiatif ini bertujuan memajukan 'AI yang Bermakna' (Meaningful AI), memastikan AI tidak hanya mendorong produktivitas dan pelayanan publik, tetapi juga memberdayakan masyarakat serta memastikan masa depan AI dibangun dan berakar di Bali, dari Indonesia untuk dunia,” ujarnya.

“Pekan Bali Harmony Encounter menyatukan gagasan global dan lokal untuk memperkuat nilai-nilai spiritual sebagai jangkar peradaban. Bali adalah tempat terbaik, di mana keharmonisan antara manusia, alam dan spiritualitas sungguh tumbuh subur,” tegas Suyoto, Wakil Presiden, UnitedIn Diversity Foundation,” imbuh Menkomdigi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado mengatakan, tantangan pada zaman ini bukan hanya mempertanyakan apa yang mampu dilakukan oleh teknologi. Melainkan kemanusiaan seperti apa yang ingin dibangun bersamanya, dan siapa yang berisiko tertinggal jika masyarakat gagal mengarahkannya demi kebaikan bersama.

“Saya mengajak kita untuk menjaga segala hal yang tidak dapat dihitung dan digantikan oleh mesin, hati nurani, kebebasan, belas kasih, pencarian makna, serta perjumpaan dengan sesama. Oleh karena itu, kita memerlukan pendidikan yang mampu mengarahkan kecerdasan manusia maupun kecerdasan buatan, sehingga kemajuan tidak menjauhkan kita dari hakikat kemanusiaan yang mendalam, melainkan justru memperkuat martabat, persaudaraan, dan perdamaian.” Tegasnya.

Metodologi forum ini mengadopsi inspirasi dari Agora Yunani kuno, yakni sebuah ruang publik terbuka tempat warga berkumpul untuk berefleksi bersama, menguji asumsi, serta bertransformasi melalui dialog yang otentik. Setiap sesi Agora menghadirkan para pemimpin dan peserta untuk memetakan kapasitas manusia yang tak tergantikan oleh AI; seperti pemikiran kritis, kreativitas seni, etika digital, dan partisipasi demokratis, di tengah pesatnya kebangkitan sistem otomatis.

Pertemuan ini memiliki bobot simbolis yang mendalam, bertepatan dengan peringatan dua tahun Perjalanan Apostolik bersejarah Paus Fransiskus ke Indonesia serta penandatanganan Deklarasi Istiqlal 2024, sebuah seruan global untuk dialog antaragama, persaudaraan kemanusiaan, tanggung jawab bersama terhadap bumi. Dengan menjembatani semangat lintas agama Deklarasi Istiqlal dan filosofi Bali Tri Hita Karana (keselarasan antara manusia, alam dan Tuhan), forum ini membangun platform permanen untuk inovasi sosial yang berkelanjutan.

Melengkapi agenda sepekan ini, 2026 International Conference on Indigenous Knowledges, Systems, Wisdom & Technology diselenggarakan oleh Tsinghua Southeast Asia Center (Tsinghua Center) berkolaborasi dengan Universitas Udayana dan School of Cybernetics dari Australian National University. Konferensi paralel ini makin memperkokoh diskusi teknologi pada fondasi kearifan tradisional yang teruji oleh waktu, tata kelola ekologis, serta kerangka pengetahuan adat (indigenous knowledge).

Berjalan berdampingan dengan forum sebagai bagian dari Bali Harmony Encounter Week, Young Changemaker Programme (YCP) menghimpun para pemimpin muda berusia 18-24 tahun dalam sebuah perjalanan pembelajaran intensif berbasis pengalaman. Tanpa menerapkan struktur pengajaran yang kaku, program ini beroperasi sebagai ruang percakapan transformatif dan imersif yang dirancang untuk menumbuhkan kepemimpinan berbasis kesadaran (awareness-based leadership).

Tujuan utamanya adalah membekali para pemuda untuk menjawab tiga pertanyaan mendasar kehidupan modern. Tiga pertanyaan itu meliputi “Siapakah saya di dunia yang serba terotomatisasi?, Bagaimana saya memahami dan berempati secara mendalam terhadap realitas orang lain?, Serta masa depan berkelanjutan dan regeneratif seperti apa yang dapat kita bangun bersama?”

Mengacu pada model pedagogi Scholas Occurrentes, University of Meaning dan Global Humanity for Peace Institute, para peserta menggerakkan rasa, pikiran dan karya untuk mengubah gagasan menjadi aksi nyata berbasis komunitas. Dengan menghubungkan tantangan sosial lokal dan pergeseran teknologi global, YCP memastikan para pembawa perubahan masa depan tidak hanya memandang AI sekadar sebagai alat komersial, melainkan sebagai instrumen untuk mengabdi pada martabat manusia, keadilan sosial dan transformasi sistemik.

World Encounter Summit dan Young Changemakers Programme terselenggara berkat sinergi kolaboratif dari lima institusi: Scholas Occurrentes, University of Meaning, Global Humanity for Peace Institute, Guerrand-Hermes Foundation for Peace, dan United In Diversity Foundation.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....