Kemenko Perekonomian Akselerasi Industri Manufaktur

  • 30 Agt 2026 10:37 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Kinerja ekonomi Indonesia bertumbuh 5,45% (c-to-c) di Semester I-2026 menjadi modal untuk sasaran pertumbuhan yang lebih tinggi di 2027. Indikator makro ekonomi Indonesia juga mengindikasikan perekonomian resilien dengan pertumbuhan yang kuat dan solid, misalnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 tercatat sebesar 116,8, serta PMI Manufaktur yaitu 50,2 pada Juli 2026 yang menunjukkan optimisme bisnis tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Sektor industri manufaktur pula yang berkontribusi paling besar untuk ekonomi Provinsi Jawa Tengah yaitu sebesar 33,18%. Dari sisi pengeluaran, kontribusi dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau bisa disebut sebagai investasi fisik di Jawa Tengah yaitu sebesar 31,52% atau lebih tinggi dari nasional yang sebesar 29,36%.

Dalam hal ini, peran dari industri manufaktur dan komponen PMTB sangat penting untuk Jawa Tengah. Hal itu diungkapkan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026, di Jakarta dikutip dari ekon.go.id.

“Karena itu, forum ini sangat tepat untuk mendorong kembali masalah investasi dan industri manufaktur. Nah, yang lainnya sebenarnya kalau kita lihat beberapa komposisi dari pengembangan di Jawa Tengah ini, potensi investasi masih akan sangat besar,” ujarnya.

Menurut Sesmenko Susiwijono, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,80% pada semester pertama 2026 (c-to-c), dan industri manufaktur atau pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap kondisi tersebut. Sementara itu, realisasi investasi Jawa Tengah pada semester pertama 2026 mencapai Rp48,54 triliun atau 48,99% dari target 2026 sebesar Rp99,09 triliun, dengan komposisi PMA Rp25,92 triliun (53,40%) dan PMDN Rp22,62 triliun (46,60%).

Lima besar lokasi realisasi investasi adalah Kota Semarang (Rp6,57 triliun), Kabupaten Kendal (Rp6,56 triliun), Kabupaten Batang (Rp6,11 triliun), Kabupaten Temanggung (Rp4,58 triliun), dan Kabupaten Demak (Rp3,34 triliun). Menurut Sesmenko Susiwijono, sudah banyak investor yang tertarik berinvestasi dalam dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Jawa Tengah yakni KEK Kendal dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), sehingga ke depannya masih akan meningkat lagi investasi yang akan masuk di Jawa Tengah.

“Itu potensi investor yang masih akan datang (ke dalam dua KEK) itu luar biasa. Lahannya sudah 100%, jadi sudah utilized semuanya. Kami mengajukan perluasan dan pengembangan, dan masih perlu proses, tapi investornya sudah mengantri. Artinya sebenarnya potensi investasi Jawa Tengah itu besar sekali. Di Jawa Tengah ada dua KEK, dan keduanya betul-betul pertumbuhannya luar biasa, terutama dari sisi industri manufaktur,” jelas Sesmenko Susiwijono.

Mengenai masalah perizinan, Sesmenko Susiwijono mengatakan bahwa hal yang paling dibutuhkan investor untuk investasi itu sebenarnya adalah kepastian perizinan, terutama perizinan dasar. Hal ini harus menjadi perhatian utama, terutama bagi pemerintah daerah yang nantinya berhubungan langsung dengan para investor tersebut.

Apalagi jika sudah diterapkan beberapa perjanjian dagang dengan negara lain mulai tahun depan yang akan membuat lebih banyak investor masuk ke Indonesia. “Problem (investor) itu tidak se-ideal itu (bukan hanya masalah perizinan saja), sehingga kita desain kebijakannya di awal dulu. Di dalam operasionalnya, itu selalu banyak tantangan dan kendala di sana, dan mereka harus ada tempat mengadunya kemana. Nah, karena itu saya buka kesempatan kalau teman-teman dari Jawa Tengah ingin berkonsultasi juga. Jadi, intinya sebenarnya ada satu titik yang kalau ada masalah bisa dikunjungi mereka (pemerintah daerah), dan itu harus dilakukan pemerintah pusat, karena regulatornya, otoritasnya, kewenangan pembuatan kebijakan program, bahkan menetapkan apapun ada di kami,” tutur Sesmenko Susiwijono.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....