Wamen LH Ajak Petani Manfaatkan Peluang Ekonomi dengan Kredit Karbon
- 17 Jun 2026 10:26 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, mendorong para petani dari berbagai sektor untuk bergabung dan berkolaborasi dalam pengembangan proyek kredit karbon sebagai upaya pengendalian emisi gas rumah kaca sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan. "HKTI bisa menginisiasi dan mengumpulkan petani menjadi collective group untuk menggabungkan lahan-lahannya lalu menggunakan metodologi tertentu agar menurunkan emisi yang nanti bisa diklaim sebagai kredit karbon dan menjadi tambahan penghasilan bagi petani," ujar Wamen Diaz.
Pernyataan tersebut disampaikan Wamen Diaz dalam pembukaan acara Seminar HKTI Carbon Farming Pilot 2026 yang diselenggarakan oleh KLH/BPLH bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026, bertempat di JICC, Jakarta. Wamen Diaz menegaskan pentingnya pengembangan teknologi di bidang ketahanan pangan yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendukung kelestarian lingkungan hidup.
"Terkait ketahanan pangan, kita memiliki cadangan beras yang surplus lebih dari 5 juta ton, tapi kita juga harus memperhatikan agar surplus ini tidak mengorbankan lingkungan. Saya rasa dengan pengembangan inovasi, ketahanan pangan bisa terwujud, tetapi dengan cara yang tidak merusak lingkungan. Keduanya harus terus berdampingan," tegas Wamen Diaz.
Wamen Diaz menyebutkan metode alternate wetting and drying (AWD) sebagai contoh inovasi pertanian yang dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus menekan emisi gas metana yang dihasilkan dari lahan persawahan. "Dengan AWD, sawah tidak terlalu basah dan tidak terus kering karena ada sistem monitoring agar level airnya tetap sesuai. Kalau sawahnya terlalu basah, nanti mengeluarkan gas metana yang lebih banyak dan menguras pupuk lebih banyak. Jadi kalau tidak diatur, nitrogen dan metana akan terus keluar ke atmosfer, menumpuk, dan membuat bumi semakin panas," jelas Wamen Diaz.
Selain AWD, Wamen LH Diaz juga menyampaikan pengalamannya saat mengunjungi SPPG II Halim yang memanfaatkan air hasil olahan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengairi sawah. "SPPG Halim, kami pernah bekerja sama untuk membantu masalah IPAL-nya. KLH memberikan IPAL kepada SPPG tersebut dan memberikan pendampingan penggunaannya. Sekarang air limbah IPAL bisa digunakan untuk mengairi sawah di sekitar SPPG itu, dan sawah ini sudah bisa panen setahun tiga kali," ujar Wamen Diaz.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....