Menteri Jumhur Jadikan Warisan Emil Salim Panduan Lingkungan

  • 12 Jun 2026 10:10 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan komitmennya untuk memastikan laju pembangunan nasional tidak mengorbankan kelestarian alam. Langkah strategis ini sejalan dengan pesan tokoh lingkungan hidup nasional, Prof. Dr. Emil Salim, bahwa kemajuan peradaban dan perlindungan ekosistem harus berjalan beriringan demi masa depan bangsa.

Komitmen tersebut ditegaskan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, saat memberikan sambutan dalam acara "Inspirasi Perjalanan Karya dan Bakti Negeri Prof. Dr. Emil Salim" di Jakarta. Menteri Jumhur menyoroti bahwa pemikiran Prof. Dr. Emil Salim merupakan landasan filosofis yang sangat relevan untuk menjawab tantangan krisis ekologis global saat ini.

"Nilai-nilai perjuangan lingkungan hidup yang ditekankan Prof. Dr. Emil Salim menjadi bagian dari pembentukan moral dan etika kita. Etika ini memandu kita untuk bertanggung jawab, melakukan langkah nyata mengendalikan kerusakan alam, dan memastikan pemanfaatannya secara adil dan seimbang dengan penuh kesadaran," tegas Menteri Jumhur.

Kesadaran akan etika lingkungan ini menjadi semakin vital mengingat posisi strategis Indonesia sebagai negara megabiodiversitas yang memikul tanggung jawab di mata dunia. Kekayaan alam yang mencakup 22 tipe ekosistem, 120 juta hektare kawasan hutan, 20 juta hektare lahan gambut, hingga bentangan garis pantai sepanjang 108.000 kilometer bukan sekadar lanskap geografis.

Semuanya berfungsi sebagai benteng alami yang menopang kehidupan masyarakat dari ancaman perubahan iklim dan bencana ekologis. Di samping fungsi ekologisnya, Menteri Jumhur juga mengingatkan besarnya potensi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat jika alam dikelola secara bertanggung jawab.

"Keanekaragaman hayati memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Ketahanan pangan nasional, pengembangan obat-obatan, ekonomi hijau, bioprospeksi, hingga industri berbasis sumber daya genetik sangat bergantung pada ekosistem yang terjaga. Substansi riset, potensi ekonomi, dan pembukaan lapangan kerja ini sangat menjanjikan, asalkan digali dengan penuh tanggung jawab," ungkap Menteri Jumhur.

Visi keseimbangan antara ekonomi dan ekologi ini sejalan dengan refleksi perjalanan panjang Prof. Dr. Emil Salim. Dari mimbar acara, ia menitipkan pesan mendalam mengenai cara pandang manusia terhadap alam semesta.

"Hidup ini bukan hanya melihat alam sebagai objek, tetapi alam juga subjek. Alam itu hidup. Alam itu tidak mati. Oleh karena itu, rangkul semua pihak. Lingkungan hidup tidak bisa dijaga oleh pemerintah sendirian. Kita harus belajar bersama dan bekerja bersama," pesan Prof. Dr. Emil Salim.

Menjawab panggilan kolaborasi tersebut, KLH/BPLH terus memperkuat langkah pengawasan, pengendalian, serta penegakan hukum lingkungan hidup secara tegas. Sebagai wujud penghormatan atas visi besar dan dedikasi luar biasa dalam melestarikan ekosistem Indonesia, KLH/BPLH secara resmi menyerahkan penganugerahan "Rhaksa Bumi Prize" kepada Prof. Dr. Emil Salim. Penghargaan ini menjadi simbol pengakuan atas perjuangan yang terus memberikan arah bagi tata kelola pembangunan berkelanjutan di tanah air.

Momentum tersebut juga dirangkaikan dengan peluncuran buku pemikirannya, Jejak Nurani, Sebuah Visi untuk Negeri. Menutup peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Menteri Jumhur menyerukan aksi kepada seluruh elemen bangsa dan dunia internasional.

"Kita hanya punya satu bumi, lintas yurisdiksi dan lintas generasi. Mari kita jadikan hari ini sebagai momentum evaluasi menuju keberlanjutan. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan," pungkas Menteri Jumhur.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....