Indonesia Ambil Posisi Strategis Perebutan Industri AI Global

  • 20 Mei 2026 11:36 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia mulai mengambil posisi dalam perebutan industri AI global. Melalui kerja sama semikonduktor dengan berbagai negara dan perusahaan teknologi dunia, pemerintah menyiapkan fondasi industri dan talenta digital nasional untuk bersaing di era kecerdasan artifisial (AI). Hal itu dikatakan Wamenkomdigi Nezar Patria dalam Keynote Speech President Club Series bertema Strengthening National Resilience in The Era of Artificial Intelligence di Jakarta Pusat, Selasa 19 Mei 2026 dikutip dari komdigi.go.id.

“Kita tidak ingin hanya menjadi pasar, tetapi kita ingin talenta digital Indonesia mampu menguasai dasar-dasar teknologi AI dan mengembangkan model AI karya anak bangsa,” jelasnya.

Menurut Wamen Nezar, langkah tersebut menjadi bagian penting dari strategi pemerintah mengejar ketertinggalan Indonesia dalam kompetisi global pengembangan AI yang saat ini berlangsung sangat cepat. “Pemerintah sudah bekerja sama dengan sejumlah industri semikonduktor di Eropa, Jepang, termasuk Arm di Inggris. Dalam kunjungan Presiden ke berbagai negara, isu semikonduktor juga menjadi pembahasan strategis,” ujarnya.

Wamen Nezar menyebut Indonesia selama ini belum berada dalam rantai pasok utama industri AI global. Karena itu, pemerintah mengambil langkah cepat dan strategis untuk membangun ekosistem industri AI nasional sekaligus memperkuat talenta digital Indonesia.

Pengembangan industri AI sangat berkaitan erat dengan industri semikonduktor sebagai fondasi utama teknologi komputasi modern, termasuk pengembangan GPU dan pusat data AI. “Kalau kita bicara industri AI, kita bicara bagaimana membangun ekosistem industrinya dan bagaimana menyiapkan talenta digitalnya. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Wamen Nezar menjelaskan Indonesia memiliki modal besar untuk masuk lebih jauh ke industri AI global karena didukung kekayaan sumber daya alam strategis seperti nikel, cobalt, timah, pasir silika hingga zinc yang dibutuhkan dalam industri chip dan semikonduktor. “Kita punya cukup banyak sumber daya alam yang penting untuk industri semikonduktor. Tetapi sayangnya sebagian besar masih dijual sebagai bahan mentah. Karena itu hilirisasi menjadi sangat penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi,” jelasnya.

Wamen Nezar juga menyoroti ketatnya persaingan global dalam pengembangan AI yang kini didominasi oleh Amerika Serikat dan Tiongkok. Ia menilai penguasaan semikonduktor dan kapasitas komputasi akan menjadi faktor penentu daya saing negara di masa depan.

Chips akan menjadi faktor penentu apakah sebuah bangsa mampu berkompetisi dalam pertarungan teknologi maju seperti artificial intelligence,” tegasnya.

Wamen Nezar juga menegaskan pemerintah menyusun Peta Jalan AI Nasional sebagai panduan strategis pengembangan AI Indonesia menuju visi Indonesia Digital 2045. “Peta jalan AI nasional ini bukan hanya dokumen birokratis, tetapi kontrak sosial kita untuk teknologi masa depan Indonesia,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....