Kemenkes Perkuat Deteksi Dini Preeklamsia Berbasis Teknologi

  • 21 Apr 2026 21:18 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memperkuat upaya deteksi dini preeklamsia berbasis teknologi sebagai langkah strategis menekan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Komitmen tersebut ditegaskan melalui kegiatan Sosialisasi dan Deteksi Dini Preeklamsia yang digelar di Auditorium Siwabessy, Gedung Kemenkes RI, Jakarta, Selasa 21 April 2026 dikutip dari kemenkes.go.id.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan pemerintah menargetkan penurunan AKI secara agresif hingga mencapai 40 per 100.000 kelahiran hidup dalam lima tahun ke depan. Upaya ini didukung transformasi sistem kesehatan, termasuk pemerataan akses deteksi dini melalui distribusi alat kesehatan.

“Kita tidak hanya menargetkan penurunan, tetapi penurunan yang agresif. Dari 140, dalam lima tahun ke depan kita harus bisa mencapai 40. Kita harus berani menetapkan target ambisius dan bekerja lebih keras, lebih cerdas, serta lebih tepat,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Saat ini, angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada 140 per 100.000 kelahiran hidup, lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Malaysia. Preeklamsia dan eklamsia menjadi penyebab kematian ibu terbesar kedua, dengan kontribusi sekitar 25 persen dari total kasus.

Sebagai respons, Kemenkes bersama mitra strategis, seperti Queenrides, Telecheksam Indonesia, dan Indonesia Prenatal Institute, menghadirkan inovasi deteksi dini berbasis Internet of Medical Things (IoMT) dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kualitas skrining. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan inovasi tersebut kini dilengkapi dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada arteri uterina dan arteri oftalmik guna meningkatkan akurasi deteksi.

“Dari hasil awal yang sudah dilakukan, tingkat deteksi meningkat hingga 50 persen. Jika sebelumnya dari empat kasus terdeteksi, dengan tambahan USG ini bisa menjadi enam kasus. Inovasi ini sangat kami sambut baik untuk memperkuat deteksi dini preeklamsia,” ujar Maria Endang Sumiwi.

Founder dan CEO Queenrides, Iim Fahima Jachya, menambahkan preeklamsia tidak hanya berkaitan dengan aspek klinis, tetapi juga sistem dan akses terhadap teknologi kesehatan. “Satu fakta yang tidak banyak diketahui, Ibu Kartini meninggal karena preeklamsia, dan itu terjadi satu abad lalu. Hingga hari ini, preeklamsia masih menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada ibu hamil di Indonesia. Ini bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga isu sistem dan teknologi yang harus terus diperbaiki untuk melindungi masa depan,” ujar Iim Fahima Jachya.

Sejak 2022, Kemenkes telah mendistribusikan perangkat USG ke 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia guna memastikan layanan deteksi dini dapat diakses secara merata, tidak hanya di wilayah perkotaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....