Wamenkomdigi: AI Gerus Pemikiran Kritis
- 19 Apr 2026 11:36 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan risiko serius dari penggunaan kecerdasan buatan yang semakin masif. Ketergantungan pada kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dinilai mulai menggerus kemampuan berpikir kritis, terutama di kalangan pelajar dan profesional.
Hal itu dikatakan Wamen Nezar saat membuka Workshop AI Talent Factory 2 di Universitas Gadjah Mada dikutip dari komdigi.go.id. “Jangan sampai kita kehilangan daya kritis karena semua diserahkan kepada AI. Itu sudah mulai terjadi di dunia pendidikan,” ujarnya.
Wamen Nezar menegaskan pengembangan talenta digital tidak bisa hanya fokus pada kemampuan teknis. Talenta masa depan harus memahami bagaimana berinteraksi dengan AI secara tepat, sekaligus mampu mengendalikan penggunaannya. Menurutnya, desain AI harus menempatkan manusia sebagai pusat.
“Desain AI harus human-centric agar teknologi yang dikembangkan memberi dampak positif pada manusia. Dalam pengambilan keputusan, AI harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat melalui pendekatan human in the loop,” jelasnya.
Wamen Nezar juga menyoroti kecenderungan penggunaan AI yang serba instan. Kondisi ini berpotensi melemahkan kemampuan analisis dan penilaian etis jika tidak diimbangi dengan kesadaran penggunaan.
Menurutnya, talenta digital harus tetap mampu mengevaluasi setiap output AI secara kritis. Kemampuan berpikir dan mengambil keputusan tidak boleh sepenuhnya dialihkan ke mesin.
Wamen Nezar Patria mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab persoalan nyata di sektor strategis seperti pangan, energi, kesehatan, dan maritim. Pendekatan berbasis masalah dinilai penting agar teknologi memberi dampak langsung bagi masyarakat.
“Ambisi strategis diperlukan agar kita tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi mampu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah nyata di sektor-sektor prioritas,” ujarnya.
Workshop AI Talent Factory 2 diikuti 98 mahasiswa dan 28 dosen dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Program ini diarahkan untuk membentuk talenta yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan dampak pemanfaatan AI.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....