Kemenkes Targetkan Penurunan Kematian akibat Kanker Panyudara Pertahun
- 28 Feb 2026 09:03 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mendiseminasikan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara 2025–2034. Langkah ini merupakan strategi pemerintah untuk mengejar target standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni menurunkan angka kematian (mortalitas) akibat kanker payudara sebesar 2,5 persen setiap tahunnya.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam forum Public Private Community Partnership (PPCP) di Kantor Kemenkes, Jakarta dikutip kemenkes.go.id mengatakan, forum diskusi dengan melibatkan lintas sektor menyatukan pemerintah, organisasi profesi, swasta, dan komunitas penyintas dalam mengatasi kesenjangan akses layanan kesehatan kanker di Indonesia. Ia menjelaskan, terdapat disparitas angka kematian karena kanker payudara di negara maju dan berkembang akibat akses layanan.
“Mortalitas akibat kanker payudara telah menurun di high-income country, karena kesadaran untuk deteksi dini dan akses ke pengobatan sudah lebih baik. Sebaliknya di low-middle-income country, kematian masih tinggi akibat tantangan dalam akses layanan kesehatan” tutur Dante.
Dante menyebut, WHO menetapkan target agar setiap negara dapat menurunkan mortalitas kanker payudara sebesar 2,5 persen per tahun, termasuk bagi Indonesia. Untuk itu, Kementerian Kesehatan telah menyusun RAN Kanker Payudara Tahun 2025–2034 sebagai panduan bersama untuk bergerak lebih cepat dan terarah.
| Baca juga: Kemenkes Fokus Tekan Angka Kematian Kanker |
“Saya harap forum ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi dilanjutkan dengan aksi kolaboratif nyata, baik dalam bentuk program, pilot project, maupun dukungan pendanaan. Tujuan utama kita adalah cure (menyembuhkan) dan palliate (meringankan beban)," ujar Dante.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM), Siti Nadia Tarmizi, memaparkan urgensi perbaikan sistem deteksi dini. Data Kemenkes menunjukkan kesenjangan yang signifikan dalam penanganan pasien.
"Dari 14 juta sasaran perempuan, baru 4,1 juta yang menjalani pemeriksaan. Dari jumlah tersebut, ditemukan 20 ribu orang dengan kelainan, namun hanya 6.000 orang yang melanjutkan pengobatan, dan hanya separuhnya yang berhasil mencapai akses rumah sakit," ungkap Nadia.
Nadia menekankan tantangan utama saat ini adalah keraguan masyarakat untuk memeriksakan diri serta sinkronisasi sistem agar pasien tidak "hilang" di tengah jalan. Oleh karena itu, RAN Kanker Payudara disusun berpedoman pada tiga pilar WHO Global Breast Cancer Initiative.
Deteksi Dini: 60 persen pasien didiagnosis pada stadium awal (stadium 1 atau 2), Diagnosis Cepat: Diagnosis tegak dalam waktu 60 hari sejak gejala awal muncul. Pengobatan Tuntas: Lebih dari 80 persen pasien menerima terapi modalitas (kombinasi operasi, radiasi, kemoterapi, dll) hingga selesai.
RAN Kanker Payudara 2025–2034 mencakup lima strategi utama: promosi kesehatan, peningkatan deteksi dini, perluasan akses layanan bermutu, penguatan registrasi kanker, dan koordinasi kemitraan multipihak.
Melalui forum PPCP, pemerintah membuka pintu seluas-luasnya bagi kemitraan inklusif demi mencapai target angka kesintasan (survival rate) 5 tahun sebesar 70 persen bagi pasien kanker payudara di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....