Pemerintah Akselerasi Program Prioritas dan Transformasi Tata Kelola
- 15 Feb 2026 12:31 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memimpin Indonesia Economic Outlook (IEO) 2026 yang diselenggarakan di Wisma Danantara, Jakarta dikutip dari ekon.go.id. Acara tersebut diselenggarakan untuk mengomunikasikan arah kebijakan ekonomi dan langkah-langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan ekonomi masyarakat.
“Strategi saya adalah Indonesia Incorporated. Indonesia sebagai satu kesatuan besar. Yang besar dan kuat harus merangkul, yang menengah dan kecil harus diperkuat, yang maju harus menarik yang tertinggal. Kita terbuka terhadap investasi dari manapun, karena kita percaya pada kekuatan kerja sama dan kepercayaan global. Kita bukan hanya raksasa yang tertidur — kita harus bangkit menjadi raksasa yang berdiri tegak, membangun kehidupan yang lebih baik, adil, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya,” tegas Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah berbagai tantangan global. Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% pada tahun 2025 dengan kuartal keempat mencapai 5,39% — tertinggi kedua di G20 setelah India, sementara pertumbuhan global masih stagnan di sekitar 3%. Ia menjelaskan, pertumbuhan tersebut diiringi perbaikan indikator sosial yang signifikan, yakni tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25%, Rasio Gini membaik ke 0,363, dan pengangguran terbuka turun menjadi 4,74% dengan serapan tenaga kerja mencapai 2,71 juta orang.
Dengan pijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2026 ditargetkan sebesar 5,4% dengan potensi hingga 5,6%, sesuai tema RKP 2026: “Kedaulatan Pangan, Energi, dan Transformasi Ekonomi menuju Indonesia Maju”. Pemerintah mempercepat tiga program prioritas Presiden sebagai source of growth sekaligus penyerap tenaga kerja, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan Program 3 Juta Rumah. Di sektor keuangan, kondisi pasar mulai kembali stabil. Sejak 2 Februari 2026 IHSG telah rebound dan arus modal asing berangsur masuk kembali, khususnya di pasar obligasi. Reformasi pasar modal terus berjalan yang tercermin dari peningkatan free float dari 7,5% menjadi 15%, transparansi UBO, percepatan demutualisasi BEI, serta kenaikan limit investasi dana pensiun dan asuransi pada saham LQ45 dari 10% menjadi 20%. Di sisi perdagangan internasional, Pemerintah memperluas akses pasar melalui I‑EU CEPA (14,7% PDB global), I‑Canada CEPA (bebas tarif >90% produk), I‑EAEU FTA, negosiasi tarif dengan AS, serta persiapan Pra‑CEPA dengan Inggris.
“Kami berkomitmen memperkuat kualitas institusi dan tata kelola melalui komunikasi yang efektif. Kepastian arah kebijakan, baik fiskal, tata kelola Danantara, maupun kebijakan lainnya, akan menjadi jangkar stabilitas dan meredam volatilitas di pasar keuangan. Seluruh komponen ekonomi harus bekerja bersama agar Indonesia bisa lepas landas dan terbang di ketinggian maksimal,” pungkas Menko Airlangga.
Sementara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kebijakan fiskal menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan dan stabilitas ekonomi. APBN 2026 diarahkan untuk ekspansif mendorong ekonomi namun tetap terukur, dengan defisit fiskal dijaga di bawah 3%. Penerimaan pajak pada Januari 2026 menunjukkan sinyal positif dengan pertumbuhan 30,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, memperkuat keyakinan bahwa konsolidasi fiskal berjalan sesuai rencana.
“Dengan langkah kebijakan yang pas yang dipimpin oleh Bapak Presiden, kita berhasil membalik arah ekonomi. Belanja negara kuartal I-2026 akan mencapai Rp809 triliun — kami keluarkan semua belanja yang mungkin di kuartal pertama untuk memastikan momentum pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Kita akan ekspansi sampai 2033, jadi tidak usah takut, prospek jangka menengah kita sangat baik,” tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Dalam mengakselerasi pertumbuhan, pembiayaan di luar APBN memiliki peran strategis. Danantara menjalankan proyek hilirisasi lintas sektor mineral, energi, serta pangan dan agrikultur dengan total investasi USD ~26 miliar yang berpotensi menciptakan lebih dari 600.000 lapangan kerja.
Enam proyek telah di-groundbreaking-kan per 6 Februari 2026 senilai USD ~7 miliar, dan akan dilanjutkan 14 proyek lainnya senilai USD ~19 miliar. Danantara juga mempersiapkan proyek investasi strategis lain di tahun 2026 — mulai dari fasilitas Waste to Energy di 33 kota, DC Platform bersama operator global, fasilitas kampung haji di Mekkah, hingga pengembangan industri perfilman dan kreatif berskala internasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....