Deteksi Dini Kunci Tingkatkan Kesembuhan Kanker

  • 05 Feb 2026 07:16 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Kanker bukan lagi vonis menakutkan jika ditemukan sejak dini. Dengan kemajuan teknologi medis saat ini, tingkat kesembuhan kanker tergolong tinggi, selama masyarakat berani melakukan deteksi dini.

Hal itu ditegaskan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat membuka puncak peringatan Hari Kanker Sedunia di SQuare One Function Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu 4 Februari 2026 dikutip dari kemenkes.go.id. Menurut Menkes Budi Sadikin, ketakutan untuk memeriksakan diri justru menjadi penghalang utama dalam penanganan kanker yang optimal.

“Kanker bisa disembuhkan, sama seperti penyakit lainnya. Masyarakat tidak perlu takut untuk memeriksakan diri. Jika diketahui di stadium satu, kesembuhan sangat mungkin terjadi. Apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini, harapan kesembuhan juga semakin tinggi,” ujar Menkes Budi Sadikin.

Menkes Budi mengungkapkan masih adanya kesenjangan partisipasi. Dari target 40 juta orang, baru sekitar 4 juta yang datang untuk skrining. Masalah utamanya yakni rasa takut dan penyangkalan (denial) di masyarakat.

“Dari 4 juta yang diskrining, ditemukan sekitar 1.700 kasus kanker yang membutuhkan pengobatan. Mayoritas kasus ini berpotensi selamat jika ditangani segera. Mari kita dorong seluruh sasaran untuk datang ke Puskesmas, jangan menunggu sakit,” tegas Menkes.

Hal senada diungkapkan Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Murti Utami yang memaparkan data yang menunjukkan urgensi deteksi dini kanker. Ia menyebut, 70 persen kematian akibat kanker di Indonesia disebabkan oleh keterlambatan penanganan.

“Terdapat sekitar 400 ribu kasus baru setiap tahunnya. Ini bukan sekadar angka, melainkan tentang masa depan keluarga yang terdampak. Saat ini, kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks) masih menjadi beban tertinggi,” jelas Murti Utami.

Murti Utami mengatakan, kanker termasuk penyakit katastropik dengan pembiayaan tinggi. Tercatat, anggaran sebesar Rp5,9 triliun dikeluarkan negara untuk perawatan kanker. 

“Beban ini tidak hanya dirasakan oleh negara, tetapi juga berdampak secara ekonomi pada masyarakat,” katanya.

Untuk menekan angka kematian dan pembiayaan tersebut, Kementerian Kesehatan meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara. Melalui program Cek Kesehatan Gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menargetkan skrining terhadap 40 juta perempuan berusia di atas 30 tahun.

 Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengapresiasi upaya pemerintah dalam menyediakan alat skrining hingga ke pelosok. Sebagai penyintas kanker, Linda menjadi bukti hidup pentingnya deteksi dini.

“Saya mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk datang ke Puskesmas terdekat. Jika kanker payudara ditemukan pada tahap awal dan diobati secara medis, Anda pasti akan sehat kembali. Saya adalah buktinya,” pungkas Linda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....