Ekonomi Indonesia Kuat Inflasi Terkendali

  • 04 Feb 2026 21:13 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Kondisi perekonomian Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin kuat. Hal ini tercermin dari tiga indikator penting yakni inflasi yang masih terkendali, neraca perdagangan yang surplus 68 bulan berturut-turut, dan sektor manufaktur yang melanjutkan ekspansi.

Menteri Koordinator Bidan Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu 4 Februari 2026 dikutip dari ekon.go.id mengatakan, inflasi tahunan Januari 2026 tercatat sebesar 3,55% (year-on-year), dimana angka tersebut tidak mencerminkan kenaikan harga yang signifikan, melainkan dipengaruhi oleh low base effect dari kebijakan diskon tarif listrik 50% pada Januari–Februari 2025, yang membuat inflasi tahunan terlihat lebih tinggi secara perhitungan. “Hal tersebut terlihat dari perkembangan inflasi bulanan yang sangat terkendali. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga hanya mencatat inflasi 0,01% (mtm), menunjukkan harga relatif stabil,” ujarnya.

Menko Airlangga mengatakan, harga pangan bergejolak (volatile food) juga turun 1,14% (yoy) pasca kenaikan sementara pada Desember 2025 akibat bencana hidrometerologi dan kenaikan permintaan Nataru. Dengan demikian, inflasi Januari 2026 tetap terkendali dan tekanan harga domestik tidak menunjukkan peningkatan berarti. 

Secara bulanan, perekonomian nasional justru mengalami deflasi 0,15% (mtm). Adapun inflasi pangan (volatile food) turun signifikan sebesar -1,96% (mtm) seiring beberapa komoditas seperti cabai dan bawang merah tengah memasuki masa panen dan membaiknya pasokan di berbagai sentra produksi. Penurunan harga pangan yang terjadi secara alamiah karena faktor musim panen merupakan kondisi yang sehat bagi perekonomian.

“Kebijakan stabilisasi harga yang proporsional dan terukur akan menjaga daya beli baik di sisi konsumen maupun produsen, sehingga rantai pasok pangan tetap terjaga keberlanjutannya,” ujarnya.

Menko Airlangga menyebut, penurunan  harga BBM Non Subsidi untuk bahan bakar bensin dan solar pada Januari 2026 juga mendorong deflasi komponen Administered Price (AP) yakni 0,32% (mtm). Namun, inflasi inti meningkat 0,37% (mtm), terutama dari emas perhiasan yang memberikan andil 0,16%.

Menko Airlangga menambahkan, Pemerintah telah melaksanakan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) pada 29 Januari 2026 lalu. Pemerintah optimis bahwa inflasi 2026 masih tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1% dengan didukung bauran kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah, Bank Indonesia, serta koordinasi pengendalian inflasi melalui strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif).

"Dalam HLM TPIP, kami menegaskan komitmen menjaga inflasi 2026 pada kisaran sasaran 2,5±1% dan inflasi pangan pada kisaran 3,0-5,0%. Koordinasi pusat dan daerah terus diperkuat untuk menjaga ketersediaan pasokan pangan antarwaktu dan antarwilayah termasuk untuk mendukung program prioritas pemerintah, meningkatkan kelancaran distribusi dan kualitas logistik pangan dari wilayah surplus ke defisit, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok terutama saat HBKN Ramadhan dan Idul Fitri, serta memperkuat dukungan infrastruktur dan logistik pascabencana untuk percepatan pemulihan ekonomi daerah terdampak," ujar Menko Airlangga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....